Ritel konsumer akan menjadi andalan Bank Muamalat dalam 2-3 tahun mendatang.
Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia Endy Abdurrahman mengatakan, populasi penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa dengan demografis sekitar 50-70 juta jiwa masuk dalam kategori kelas menengah menjadi pasar potensial bagi perbankan syariah. Memanfaatkan momen tersebut, Bank Muamalat pun berencana mulai memperbesar porsi ritel konsumer.
“Sekarang ritel masih 45 persen dan 55 persen corporate dan komersial. Nah itu kami ingin balik dalam 2-3 tahun ke depan setidaknya 60 persen retail dan konsumer, sedangkan 40 persen corporate dan komersial. Ini karena pada tiga tahun mendatang kelas menengah akan berada pada puncaknya” jelasnya.
Salah satu langkah Bank Muamalat untuk menggenjot ritel konsumer adalah dengan meluncurkan program Angsuran KPR iB Muamalat Super Ringan, yang cicilannya setara dengan lima persen. Produk tersebut pun disiapkan untuk lebih mendongkrak pertumbuhan pembiayaan kepemilikan rumah di tahun depan.
“Tahun depan 2017 itu pertumbuhan sekitar 15-17 persen dari tahun ini. Jadi memang produk ini merupakan persiapan dari puncak pertumbuhan kami di 2017. Kami memperbesar ritel konsumer bukan saja mempertimbangkan tingkat risiko dan kualitasnya, tapi kembali lagi segmentasi masyarakat yang membutuhkan KPR ini sangat besar,” ujar Endy.
Sementara, Direktur Retail Banking Bank Muamalat Purnomo B Soetadi mengutarakan, segmentasi pasar pembiayaan KPR Bank Muamalat berada di sektor menengah dengan harga rumah antara Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar. Tenor yang ditawarkan dalam program Angsuran Super Ringan adalah 5 dan 10 tahun. Saat ini porsi KPR di pembiayaan ritel konsumer Bank Muamalat mencapai 80 persen.
[bctt tweet=”Segmentasi pasar KPR Bank Muamalat ada di sektor menengah” username=”my_sharing”]

