Dalam usul fiqih, jika memang kondisinya darurat, Risma bisa saja dimajukan pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
Ketua Pengajian Politik Islam (PPI) Cholil Ridwan menuturkan, idealnya lima nama yang telah dikerucutkan ulama, yaitu Adhiyaksa Dault, Sandiaga Salahuddin Uno, Sjafrie Sjamsuddin, Yusril Ihza Mahendra, dan Yusuf Mansyur, lalu bertemu dan kemudian bersepakat untuk memutuskan satu nama. Nanti keempat nama lainnya mendukung salah satu dari mereka yang telah dipilih untuk maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.
“Kalau yang memutuskan untuk menetapkan satu pasang, nanti akan ada yang marah, jika dirinya tidak terpilih. Terpenting adalah Ahok harus dilawan dengan jihad. Jika salah satu nama sudah mereka sepakati untuk maju dan yang lain mendukung. Itu sudah merupakah jihad,” papar Cholil usai muzakarah ulama dan tokoh di Masjid Al-Azhar, Jakarta, pekan lalu.
Terkait munculnya nama Risma jelang Pilkada DKI Jakarta 2017, yang didukung oleh Jaklovers (Jakarta Love Risma). Ulama Betawi ini menilai bahwa munuclnya nama Riswa membuat peta politik berubah. Nama Risma kembali diperhitungkan dan digadang-gadang, sampai-sampai incumbent Basuki Tjahadja Purnama atau Ahok merespon dengan rasa cemas. Bahkan, belum lama ini tujuh partai yang membentuk “Koalisi Kekeluargaan” diprediksi akan mengarah kepada Risma-Sandiaga Uno.
“Memasangkan Risma-Sandiaga Uno itu bagus. Ulama harus mendukungnya. Kalau tidak mendukung, Ahok bisa menang. Boleh jadi ada ulama yang terbelah soal pemimpin wanita, bab darurat, untuk membolehkan yang dilarang. Ya dalam hal ini pemimpin wanita,” ujar Cholil.
Lebih lanjut Cholil menjelaskan, dalam hadits memang dinyatakan, jika suatu kaum menyerahkan pemerintahannya lepada perempuan, tidak akan berjaya. “Tapi bukan berarti haram. Ini jika terjadi darurat, dan waktunya temporal 5 tahun saja, bukan dalam rangka memilih pemimpin tertinggi (presiden), sebetulnya tidak masalah,” tegas mantan Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya.
Namun ketika ditanya kenapa para ulama bergabung Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) dan Majelis Pelayan Jakarta (MPJ) tidak merapat dengan tujuh parpol yakni Koalisi Kekeluargaan, terkait jika nanti diputuskan nama pasangan Risma-Sandiaga Uno.
Justru, jawab Cholil, GMJ dan MPJ dalam rangka itu. Ini dilandasi karena tidak mengumpulkan KTP atau hak usung. “Kita akan ikut parpol, kalau memang yang diusung cocok dengan keinginan kita. Maka ulama akan memfatwakan atau mewajibkan umat Islam untuk memilih satu pasang cagub dan wagub DKI Jakarta,” ujarnya..
Cholil pun tidak mempermasalahkan dengan pasangan Risma-Sandiaga Uno, jika memang itu keputusannya, pasti akan diumumkan. “Politik itu tidak boleh kaku, setiap kesulitan ada kemudahan. Artinya tidak mentok. Begitu juga ketika seseorang tidak bisa shalat berdiri, maka ia dapat melakukan dengan duduk, atau dalam posisi terlentang, bahkan dengan isyarat mata. Secara fiqih itu sah,” tegas Cholil.
Sementara itu, bagaimana jika kalangan umat berpandangan jika Risma disandingkan dengan Ahok, lebih baik tidak memilih sama sekali?Yakni lagi-lagi dengan alasan karena Risma seorang wanita yang dinilai tidak bisa menjadi memimpin?
[bctt tweet=”KH. Cholil RIdwan: Golput malah memenangkan musuh!” username=”my_sharing”]
Menurut Cholil, itu adalah pandangan dengan alasan salah, karena maíz ada bab darurat. “Dalam usul fiqih, jika memang kondisinya darurat, Risma bisa saja dimajukan,” kata Cholil. Yang pasti, tambah dia, pilihan golput itu salah. Sikap golput itu malah memenangkan musuh. Mereka yang golput, tidak termasuk orang yang berjihad.

