Kita belum punya kesepakatan karakter apa saja yang diinterlnaisasikan, dengan cara seperti apa?
Wakil Rektor Bidang Akademik & Kemahasiswaan Universitas Indonesia (UI) Bambang Wibawarta menilai pendidikan karakter sangat penting untuk terus didengungkan.Akan tetapi menurutnya yang menjadi pertanyaan adalah karakter yang seperti apa yang akan diinternalisasikan. Ini yang belum ada kesepakatan.
“Sebagai sebuah bangsa yang besar kita belum punya kesepakatan, karakter apa saja yang diinternalisasikan dan dengan cara seperti apa,” kata Bambang dalam sambutannya pada seminar bertajuk “Pendidikan Karakter untuk Kemajuan Bangsa,” di aula gedung IASTH UI, Jakarta, Senin (29/8).
Menurutnya, seharusnya mulai Sekolah Dasar (SD) sudah mengenal karakter apa, sehingga dia paham dan menjadi perilaku yang baik karena tidak cukup hanya pengetahun. Bambang pun menganalogikan bahwa kita tahu ini satu arah, kalau lawan arah tidak boleh. Tapi tetap saja kita melawan arah karena buru-buru takut ketinggalan atau dimarahi dosen.
“Nah, itu berarti tidak terinternalisasi dengan baik.Yang paling penting apa sih sebenarnya dasar membentuk karakter bangsa. Apakah nilai-nilai universal yang ada di barat ataukah nilai-nilai keIndonesiaan, misalnya gotong royong dan kebangsaan,” ujarnya.
Bambang pun menegaskan, jika anak sudah lulus sekolah, itu harus tahu karakter apa yang harus diterapkan. Apakah itu ada dalam buku pelajaran? Ini yang menjadi masalah adalah pendidikan karakter tidak berjalan sebagaimana mestinya, tidak ada secara sistematis didalam dunia pendidikan di Indonesia.
Sebenarnya, lanjut dia, ketika mahasiswa masuk ke perguruan tinggi harus punya karakter, dan ini tentunya tidak mudah.
” Kita di UI, ada mata kuliah pengembangan karakter sebanyak 16 sks. Tapi itu seharusnya diterapkan di semua mata kuliah seperti fisika, kimia, dan ekonomi juga yakni bisa menenal kebesaran Tuhan dalam semua bidang,” pungkasnya.

