Program pengajian ini membiasakan mahasiswa berpikir kritis, tapi referensinya agama.
Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia ( ICMI) Jimmly Asshiddiqie mengaku prihatin dengan makin kuat kecenderungan gerakan-gerakan radikalisme yang berusaha mempengaruhi mahasiswa. “Nanti pengajian tidak rasional di kampus-kampus, baru berapa bulan pengajian celana panjang langsung ngatung.Ini harus kita antisipasi karena dunia perguruan tinggi itu harus dijaga.Karena itu sumber peradaban bangsa,” kata Jimmly di kantor ICMI, Menteng, Jakarta, Jumat (2/9).
Untuk mengantisi pengaruh radikalisme, lanjutnya, ICMI mengajukan program pengajian Circle Qur’an and Sains. Program ini akan dibicarakah dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), yang kemudian akan diajukan ke kampus-kampus untuk diterapkan. “Jadi ngaji Qur’an dan sains, pendekatannya itu ilmiah,” ujar Jimmly.
[bctt tweet=”ICMI prihatin radikalisme tumbuh di kampus-kampus” username=”my_sharing”]
Misalnya, jelas mantan Ketua Mahkamah Agung ( MA), bagaimana pelajaran biologi atau kimia kaitannya dengan Qur’an, juga ilmu sosial khususnya ilmu sejarah dalam Qur’an. Sehingga kita bisa membiasakan mahasiswa itu berpikir kritis, tapi tetap referensinya agama. Jadi menurut Jimmly, itulah yang nanti menjadi ciri peradaban bangsa.
ICMI mendorong setiap perguruan tinggi mempunyai kegiatan pengajian seckell Qur’an dan sains. “Ini yang akan kami bicarakan dengan BNPT.Jadi sifatnya pencegahan sambil melawan jalan pikiran yang menyimpang,” pungkasnya.

