Saat ini, ketergantungan ke sektor perbankan di Indonesia patut diakui masih sangat tinggi. Ini juga yang mempengaruhi kebijakan pemerintah guna mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi.
Kondisi ketergantungan di atas dinilai banyak pakar, sebagai suatu hal yang tidak sehat. Oleh karena itu, pendalaman sektor keuangan menjadi sangat penting.
“Setiap kali pemerintah ingin mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi, yang kita lihat pertama adalah kemampuan sektor perbankannya. Untuk mendukung pertumbuhan. Dan kita tau ini tidak akan sehat untuk kita maju,” jelas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat Keynote Speech dalam seminar internasional “Financial Market Deepening: The Way Forward for Indonesia,” di Bank Indonesia kemarin, Senin (19/09/2016) sebagaimana dikutip dari Laman Kemenkeu.go.id.
Menurut Sri Mulyani, dominasi industri perbankan ini sangat signifikan, bahkan jika dibandingkan dengan peringkat kedua terbesar di sektor keuangan, yaitu industri asuransi, yang hanya berkontribusi sebesar 10,44 persen dari total aset sektor keuangan.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
“Dari sini, kita bisa lihat langsung, bahwa di Indonesia komposisi sektor keuangannya sangat bergantung ke sektor perbankan,” lanjut Sri Mulyani.
Karena itu, untuk ke depannya, Sri Mulyani berharap, akan ada pendalaman terhadap sektor keuangan Indonesia. Terlebih dari data Bank Dunia, kapitalisasi pasar di Indonesia masih sangat kecil jika dibandingkan dengan beberapa negara besar di kawasan ASEAN.
“Indonesia masih sangat dangkal dalam hal pengembangan pasar keuangan,” demikian ujar Sri Mulyani, Menteri Keuangan R.I.

