
Kondisi defisit neraca perdagangan Indonesia di tahun lalu yang sempat melebar dan ekonomi global yang bergejolak membuat sejumlah otoritas ekonomi dan moneter memberlakukan kebijakan ketat. Di tahun mendatang kebijakan pemerintahan baru pun dinilai akan melonggar dan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan dapat mencapai di atas 6 persen.
Menteri Keuangan RI, Chatib Basri optimis jika perekonomian stabil pada 2015, maka tidak akan ada lagi kebijakan yang ketat. “Nanti kalau current account sudah oke maka bisa manuver fiskal, suku bunga bisa turun, investasi bisa naik, Mudah-mudahan ada sentimen positif untuk pemerintahan baru dan bisa tumbuh 6,1 persen di 2015,” ujar Chatib dalam Diskusi “Menyongsong Peta Baru Kebijakan Ekonomi Indonesia” di Hotel Borobudur, Senin (7/4).
Di kuartal I 2014 Chatib memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai angka 5,7-5,8 persen. “Kemungkinan bisa upsize lagi karena recovery ekspor sudah lebih baik. BI juga sudah menyesuaikan BI rate sampai 175 bps, mereka sudah antisipasi jauh hari daripada negara lain jadi saat tapering dilakukan efek di Indonesia hanya sehari lalu kembali. Dengan kebijakan moneter yang konsisten maka persiapan Indonesia bisa lebih baik,” jelas Chatib.
Chatib memaparkan saat The Fed melakukan quantitative easing, itu berarti jumlah uang beredar naik karena bank sentral membeli aset. Saat jumlah uang beredar semakin banyak, salah satunya mengalir pula ke negara emerging market dalam bentuk portofolio investasi maupun ke pasar komoditas dan energi. Ekspor Indonesia yang 62 persennya berupa komoditas dan energi tentu diuntungkan.
- Bank Mega Syariah Umumkan Pemenang Poin Haji Berkah Tahap 3
- BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan ke Segmen Konsumer dan Ritel
- BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha
- CIMB Niaga Ajak Nasabah Kelola Gaji dan Finansial dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Namun ketika kondisi perekonomian Amerika mulai pulih dan The Fed berhenti membeli aset, maka likuiditas akan ketat dan tingkat suku bunga harus naik. “Dugaan saya pada 2015 The Fed akan menaikkan suku bunga,” kata Chatib. Namun langkah antisipasi yang dilakukan Bank Indonesia sejak Juni 2013 dengan menaikkan suku bunga membuat perekonomian tanah air dinilai tidak akan terlalu bergejolak akibat kebijakan The Fed tersebut.
Dorong Diversifikasi Produk Ekspor
Hal yang harus tetap diwaspadai adalah kondisi ekonomi global yang masih tidak pasti. Oleh karena itu, seyogyanya ekspor tidak hanya terfokus pada satu produk. “Yang harus dilakukan adalah diversifikasi produk,” cetus Chatib. Persoalan neraca perdagangan di tahun lalu adalah Indonesia mengalami defisit sampai dengan 10 miliar dolar, karena jumlah impor yang lebih besar dari ekspor.
Chatib mengakui tumbuhnya kelas menengah turut mendorong kenaikan impor, sementara di sisi lain industri juga masih ada yang bergantung pada bahan baku dan modal dari negara lain. “Solusi yang ideal untuk mengatasi itu adalah memperbaiki sisi suplai dengan menaikkan kapasitas produksi domestik,” tukas Chatib.
Ia tak menampik langkah tersebut akan memerlukan waktu karena harus membangun pabrik dan meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu, solusi jangka pendeknya adalah memotong sisi permintaan (demand) dengan dua opsi yaitu menaikkan suku bunga dan memotong subsidi BBM. Hasilnya dalam empat bulan defisit neraca perdagangan turun menjadi 4 miliar dolar AS.
Kendati demikian, Chatib menegaskan kebijakan di sisi demand itu tidak bisa dilakukan terus menerus agar pertumbuhan ekonomi tidak stuck di posisi 5,8 persen. “Dalam jangka menengah Indonesia tidak boleh melakukan pengetatan fiskal dan moneter terus menerus. Isu jangka menengah dan panjang harus dari sisi suplai, itu berarti infrastruktur harus jalan. Pemerintahan ke depannya kalau mau membuat gross domestic bruto kembali lagi harus perbaiki dari supply side,” tegasnya.
Ia menambahkan Indonesia tidak mungkin terus ekspor sebagian besar komoditi dan energi atau buruh murah, maka beberapa kebijakan pun dibuat misalnya kewajiban membuat smelter untuk usaha tambang agar menghasilkan produk yang punya nilai tambah. Langkah lainnya adalah dengan mendiversifikasi produk ekspor dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Pemerintah pun memberikan insentif pajak untuk riset dan pengembangan.

