Peluncuran buku Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (04/10). Foto: Bambang Wiwoho

Ethis Thionghoa Berperan Sebarkan Islam

[sc name="adsensepostbottom"]

Unsur pemersatu yang efektif yaitu persatuan dan persaudaraan berdasarkan kesamaan agama.

Sejarah tentang siapa yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Indonesia masih menjadi perbedaan pendapat para sejarawan.

Para sejarawan membuktikan, bahwa etnis Thionghoa juga memiliki peran yang signifikan dalam penyebaran Islam di Indonesia. “Namun sayangnya, kini muncul kesan bahwa masyarakat Thionghoa di Indonesia adalah “the others”, sehingga kerap muncul jarak antara Islam dan Thionghoa.

Bahasan tersebut muncul dalam acara bedah buku “Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Thionghoa,” yang digelar Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) dan Dompet Dhuafa di Philanthropy Building, Jakarta, Rabu (26/10).

Dalam acara tersebut disinggung pula masih banyaknya orang yang memiliki pandangan membeda-bedakan keturunan Thionghoa dengan etnis lainnya.Misalnya, orang-orang Thionghoa dikenal hanya sebagai pedagang atau saudagar, sehingga mereka hampir tidak umum dikenal sebagai karyawan atau pun ustadz.

Pemisahan atau segregasi ini tak benar-benar hilang sampai kini. Orang-orang Thionghoa dianggap eksklusif karena hanya berkumpul dengan sesama mereka. Mereka menerima fasilitas istimewa di bidang ekonomi, dan ini kerap menimbulkan friksi dengan penduduk lokal.

“Thionghoa jelas merupakan salah satu komponen bangsa Indonesia. Sebagai bangsa multi etnik, Indonesia terbentuk dari pertemuan berbagai suku dan ras,” ujar Bambang.

Sejarawan lainnya, kata dia, Onghokham (alm) menyebutkan, “Indonesia bukanlah planet tersendiri,” yang terpisah dari komponen-komponen lainnya di muka bumi. Mereka akhirnya bersama-sama menamakan diri “Indonesia”.

“Bahkan, ada satu unsur pemersatu yang tak kalah efektif, yaitu persatuan atau persaudaraan berdasarkan kesamaan agama (ukhuwah). Persaudaraan ini masih melalui banyak tantangan dan cobaan,” tegas Bambang.

Helmi Yafie, putra mantan Ketua Umum MUI Ali Yafie menyatakan rasa bahagia, karena YHKO dan Masjid Lautze istiqamah dalam perjuangan dakwah membina keturunan Cina di Indonesia.

[bctt tweet=”Thionghoa adalah salah satu komponen bangsa Indonesia!” username=”my_sharing”]

“Tepat pada hari jadinya yang ke-25 (tahun), Yayasan H.  Karim Oei dan Masjid Lautze menerbitkan buku “Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa,” ujar Helmi dalam sambutannya mewakili sang ayah Ali Yafie yang berhalangan hadir.

Acara bedah buku terbitan Teplok Press itu dihadiri Bambang Wiwoho (Penyunting Buku Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Thionghoa), Ridwan Saidi (Sejarawan Betawi), Helmi Yafie (Putra mantan Ketua Umum MUI Ali Yafie), Marzuki Usman (Pengamat Ekonomi), dan Fuad Bawazir (Mantan menteri Keunangan Orba).