Pertumbuhan ditargetkan mencapai 5,1 persen.

Dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas lima persen, kebijakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) relatif tetap ekspansif. Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN 2017 di Gedung Djuanda Kompleks Kementerian Keuangan, Kamis (27/10).
Ia mengatakan, dalam dua tahun terakhir pada 2014-2015 terjadi pelemahan di berbagai sektor dan cukup dramatis jika dilihat per kuartal. Pada 2015 pertumbuhan ekonomi pun tercatat sebesar 4,7 persen dan pemulihan baru terjadi di kuartal empat 2015. “Tema tahun ini adalah untuk mengelola pemulihan. Melalui 2016 anggarannya relatif ekspansif dan akan diteruskan pada tahun depan, sehingga bisa menjaga pertumbuhan diatas lima persen,” papar Menkeu.
Menkeu menambahkan, kebijakan fiskal di APBN 2017 ekspansif tapi masih memegang prinsip kehati-hatian. “Menjaga APBN ini seperti lari marathon jadi stamina harus dijaga dalam jangka relatif panjang. Karena faktor eksternal lemah, maka fiskal harus bisa menjadi penahan global dan menjaga stimulasi di dalam. Belanja juga lebih produktif untuk infrastruktur, kesehatan, pendidikan, untuk mengurangi kemiskinan dan karena frekuensi bencana alam, maka juga harus ada untuk mitigasi,” katanya.
Sri Mulyani pun mengharapkan pertumbuhan di tahun depan dapat mencapai 5,1 persen. Menurutnya, asumsi tersebut cukup seimbang. “Di satu sisi di dalam negeri mencoba menjaga momentum pertumbuhan, tapi di sisi lain paham bahwa kondisi global belum kondusif, bahkan ada kemungkinan risiko terjadi seperti kenaikan suku bunga The Fed dan proteksionisme negara maju, sehingga akan memengaruhi harga komoditas,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan kebijakan di arena global, seperti perubahan tingkat suku bunga The Fed, gejolak geopolitik dan Brexit turut mempengaruhi sentimen negara emerging market, termasuk Indonesia. Hal ini juga terefleksi terhadap nilai tukar mata uang dalam dua tahun terakhir, sehingga mempengaruhi kepercayaan.
Oleh karena itu, pemerintah mengambil langkah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di atas lima persen. Di antaranya, dengan melindungi komponen sumber pertumbuhan dalam negeri agar tidak mengalami tekanan global, terutama dari perdagangan internasional dan komoditas, gejolak geopolitik dan geoekonomi seperti perlambatan ekonomi di Tiongkok dan Brexit, bahkan gejolak perbankan seperti yang terjadi di Deutsche Bank. “Selain itu, sumber pertumbuhan ekonomi juga akan dicari agar terstimulasi,” tandas Menkeu.
[bctt tweet=”2017, pertumbuhan dijaga di atas lima persen” username=”my_sharing”]
Dalam APBN 2017, pendapatan negara disepakati sebesar Rp 1.750 triliun dan belanja negara mencapai Rp 2.080,5 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran terhadap produk domestik bruto sebesar 2,41 persen. Rasio defisit anggaran tersebut lebih rendah dibanding outlook 2016 yang sebesar 2,7 persen.

