Dalam luka hatinya, Remika bangga Ahok jadi gubernur DKI Jakarta. Tapi ia tetap menuntut hukum ditegakkan atas kasus Ahok. Doa pun ia lantunkan agar Ahok dapat hidayah.
Sebagai warga Bangka Belitung, Remika mengaku bangga, Basuki Thajaha Purnama alias Ahok sebagai putra daerah menjadi gubernur di DKI Jakarta. Namun, terkait ucapan Ahok di Kepulauan Seribu pada September 2016 lalu yang menghina Al-Quran yaitu Surat Al-Maidah ayat 51. Tentu ini sangat mengusik hati Remika, sebagai Muslimah.
”Saya, dan siapapun pasti bangga pak Ahok sebagai putra daerah Bangka Belitung jadi gubenur di daerah lagi. Tapi saya kecewa karena Pak Ahok masuk ke wilayah yang bukan kapasitas dia,” ujar Remika saat ditemui MySharing pada Aksi Super Damai Bela Islam II di Monas, Jakarta, Jumat pagi (2/12).
Remika pun turut merasakan kepedihan dan kekecewaan lantaran penegakan hukum lamban dalam menangani kasus Ahok yang diduga sebagai penista agama atas ucapan di Kepulauan Seribu itu.
Remika tak menyalahkan kalau akhirnya berbagai reaksi muncul menuntut penegakan hukum berkeadilan bagi penista agama. Salah satu reaksi itu menurut dia, adalah Aksi Bela Islam I yang digerakan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) pada 14 Oktober 2016 lalu, dari Masjid Istiqlal mengarah Balai Kota. ”Namun hasilnya nihil, pemerintah dan aparat tak bergeming sunyi senyap,” ujarnya.
Sehingga menurut dia, tak salah kalau kemudian Aksi Bela Islam II digelar lagi pada Jumat 4 November 2016 di depan Istana Negara dengan massa mencapai hampir 3 juta dari berbagai provinsi Indonesia. ”Saat aksi 411 saya tidak bisa ikut, karena kerja tidak bisa cuti. Padahal ingin sekali hadir bersama umat Muslim mengetuk pintu istana,” kata Remika.
Bertamu ke Istana Negara pada 411, umat Muslim kecewa lantaran Presiden Jokowi tak membuka pintu, hanyalah Menkopolhukam Wirato, Mensesneg Pratiko yang diperintahkan untuk menyambut massa. Tentu kekecewaan ini pun dirasakan Remika.
Untungnya, menjelang magrib Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) didampingi Wiranto, Pratikno, Kapolri, Kapolda, dan petinggi lainnya berkenan bertemu perwakilan GNPF yakni Ustaz Bachtiar Nasir dan Ustaz Zaitun Rasmin. Hasil kesepakatan dalam waktu dua minggu, pemerintah berjanji akan menyelesaikan kasus Ahok dengan sikap tegas. Ya pada 16 November 2016, Ahok ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim.
Tersangka tapi tidak ditahan. Tentu menurut Remika hal yang wajar kalau kemudian Aksi Bela Islam III bergulir lagi. ”Alhamdulilah saya bisa ikut aksi 212. Ini berkah ya kebetulan kontrak kerja sama selesai, jadi saya bisa terbang ke Jakarta sengaja untuk hadir di aksi 212 ini,” ungkap Reremika.
Remika mengaku datang ke Jakarta sendiri tidak bersama rombongan. Namun ketika di dalam pesawat terbang dirinya bertemu banyak umat Muslim dari Bangka Belitung yang akan ke Jakarta untuk ikut aksi 212.
”Alhamdulilah di pesawat bertemu banyak warga Bangka Belitung yang bertujuan sama ikut aksi 212, ini soal hati yang terluka langka kaki tak bisa siapapun hadang,” tegasnya.
Remika mengaku bahwa ketika dirinya akan pergi ke Jakarta ikut aksi, banyak yang melarangnya. ”Ada pro dan kontra, teman-teman saya bilang ngapain kamu ikut aksi 212? Saya jawab saja, kenapa emang? Ini panggilan hati, nggak ada yang berhak melarang bela akidah.”
Sesampaikan di Jakarta, Remika menginap di rumah temannya di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Sedangkan warga Bangka Belitung lainnya yang bertemu di pesawat menurutnya kemungkinan mereka menginap di hotel.
[bctt tweet=”Nggak ada yang berhak melarang bela akidah!” username=”my_sharing”]
Semoga Ahok dapat Hidayah
Kehadiran Remika dalam aksi super damai di Monas, Jumat (2/12) itu tuntutannya sama dengan umat Muslim Indonesia lainnya yakni menuntut keadilan dalam menegasan hukum bagi Ahok.
”Kalau semua bukti-bukti sudah lengkap, proses segera dan prosedur hukum tegakkan seadilannya. Pak Ahok sudah tersangka, Bu Yani pun sudah tersangka. Bedanya, Bu Yani tersangka langsung ditangkap, Pak Ahok belum. Hukum harus adil jangan tebang pilih,” ungkapnya.
Dalam doa dan zikir di aksi 212, Remika akan memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Ahok diberikan hidayah. ”Tentu kita juga harus mendoakan pak Ahok, semoga dapat hidayah, bisa menjaga hatinya dan bertutur santun,” ujar Remika.
Terkait tutur Ahok yang kerap kasar dan arogan, terlebih berbicara masuk ke bukan kapasitasnya yakni penista agama orang lain. Remika bercerita, bahwa tidak semua orang Bangka Belitung berperilaku seperti Ahok dalam bertutur kata yang kerap mengundang polemik menyakitkan, utamanya bagi umat Muslim.
”Aksi 411, pak Ahok bilang massa dibayar. Subhanaallah, terlalu dini menilai hati dengan sebelah mata tanpa bukti. Paham harusnya, Aksi Bela Islam adalah panggilan hati umat Islam untuk bersatu membela agamanya. Tak punya apapun, kami bersatu saling membagi tegakkan akidah agama, tuntut hukum berkeadilan.”
Karakter Orang Bangka Tegas, Tapi Tidak Kasar
Remika kembali berkisah, bahwa warga Bangka Belitung tersinggung dengan ucapan Ketua Umum DPIP yakni Megawati Soekarnoputri. Ketika itu bahkan dimuat di media massa, mantan presiden ke 5 RI ini mengatakan, bisa memaklumi karakter Ahok yang bicara ceplas-ceplos, dan Presiden Jokowi juga harus memberi pemakluman terhadap karakter Ahok.
Soalnya, menurut Megawati, karakter orang Bangka memang dikenal lugas. Pembawaan Ahok tentu berbeda dengan orang Jawa yang lembut. ”Ahok kalau mulutnya tidak begitu ya dia bukan orang Bangka,” kata Megawati ketika itu.
Jelas, kata Remika, ucapan petinggi negeri itu menyakitkan karena mengibaratkan semua orang Bangka itu karakternya seperti Ahok, ya tidak tentunya. ”Orang Sumatera itu memang dikenal tegas, tapi tidak kasar dan arogan. Itu beda sekali. Kami orang Bangka nggak terima ucapan itu,” tegasnya.
Namun Remika, tetap akan melantunkan doa dan zikir agar Ahok putra daerah Bangka Belitung itu diberikan hidayah yang bisa membawa hidupnya kelak dalam keabadian yang hakiki tidak berlumur kekuasaan yang menyakitkan rakyat Indonesia, khususunya umat Muslim.
”Meskipun terluka, dalam doa dan zikir ini, saya akan tetap doakan semoga pak Ahok mendapatkan hidayah dari Allah SWT,” pungkasnya.

