Umat Islam merasakan kepedihan mendalam atas tragedi kemanusiaan yang menimpa Myanmar dan Suriah.
Ketua PBNU KH Said Aqil Siraj mengatakan, PBNU sangat prihatin atas tragedi kemanusiaan yang kembali terjadi pada saudara-saudara Muslim Rohingya di Myanmar. Muslim Rohingnya makin terjepit dengan kebijakan Pemerintah Myanmar di beberapa titik bagian Rakhine.
“Aksi militer Myanmar menyebabkan korban berjatuhan. Apapun yang melatarbelakangi peristiwa tersebut, militer dilarang menyerang dan menyalahkan seluruh Muslim Rohingya. Karena bagaimana pun kejahatan tidak dibenarkan,” kata Said dalam konferensi pers pernyataan sikap PBNU atas Tragedi Kemanusian yang Menimpa Myanmar dan Suriah,” di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (20/12).
Menurut Said, tragedi bersenjata di Aleppo, Suriah juga menyebabkan sebagian rakyat sipil yang sebagian besar terdiri atas wanita, anak-anak, dan orangtua tidak berdosa menjadi korban, sementara ribuan lainnya jadi korban. Selain itu, mereka juga minim air, dan medis untuk penuhi kebutuhan bertahan hidup.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Said mengungkapkan, menyaksikan represi yang dilakukan militer Myanmar kepada Muslim Rohingya di utara Rakhine dan tragedi kemanusiaan akibat konflik bersenjata di Aleppo Suriah, maka PBNU mengecam segala tindak kekerasan yang mencederai kemanusiaan dan melanggar prinsip Hak Azasi Manusia (HAM) yang tercantum dalam Deklarasi HAM PBB. Bahwa tindak kekerasan adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
“Islam mengutuk kekerasan dan tidak ada agama yang mengajarkan cara kekerasan dalam kehidupan. Umat Islam merasakan kepedihan luar biasa atas peristiwa yang menimpa saudara seiman di Myanmar,” tegas Said.
Said kembali menegaskan, PBNU juga prihatin atas timbulnya korban jiwa terutama sipil dan anak-anak dalam konflik Aleppo. Anak-anak tidak berdosa harus kehilangan nyawa dan masa depan mereka. Karenanya, PBNU mengajak seluruh kepala negara dan pemimpin negara di dunia untuk aktif melawan segara bentuk kekerasan yang jadi musuh bersama dan harus dilawan untuk menciptakan perdamaian yang harmonis.
“Represi adalah musuh bersama dan harus dilawan sekuat tenaga. PBNU mendorong semua pemimpin agama dan kepala negara untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin. Kami juga mendesak pemerintah Indonesia untuk ambil langkah diplomasi demi terwujudnya HAM di Myanmar dan Aleppo Suriah,” ungkap Said.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengatakan, dalam konteks membangun ukhuwah dan kemanusiaan, PBNU akan memberi bantuan kemanusiaan kepada siapapun, Muslim non Muslim, termasuk warga di Aleppo.
“Tapi kami tidak ingin ikut mencampuri urusan politik. Yang pasti ada fakta anak-anak di sana dibantai, anak-anak perempuan dilecehkan. Ini sesuatu yang melanggar kemanusiaan,” tegas Helmy.

