(Ki-ka): Wasekjen Wantim MUI Zaitun Rasmin, Wakil Wantim MUI Nazarudin Umar, Ketua Wantim MUI Din Syamsuddin, Wakil Wantin MUI Didin Hafiduddin, dan Sekjen Wantim MUI Natsir Zubaedi dalam rapat pleno ke 13 bertajuk "Strategi Perjuangan Umat Islam", di kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (22/12). foto:MySharing.

Transfer Energi Positif Aksi Bela Islam

[sc name="adsensepostbottom"]

Pasca Aksi  Bela Islam 411 dan 212, mata dan nurani seluruh elemen bangsa dan dunia kembali terbuka.

Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin dalam rapat pleno ke 13 bertajuk “Strategi Perjuangan Umat Islam”, di kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (22/12).

“Persatuan umat (tawhidul ummah) menjadi spirit luar biasa yang mampu mengantarkan umat untuk melakukan penguatan umat (taqwiyatul ummah) dan perbaikan bangsa (tashlihul wathan) dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945,” kata Din di kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (22/12).

Menurut Din, energi positif tersebut telah menghadirkan kembali napak tilas perjuangan umat Islam Indonesia,  yang senantiasa setia mencintai NKRI sebagai sadaqah jariyah para pahlawan Islam yang akan terus dipertahankan dan dibangun oleh generasi umat Islam modern Indonesia.

Oleh karenanya, kata Din, pada kesempatan ini  Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI)  menegaskan kembali, bahwa umat Islam telah memandang umat beragama lainnya sebagai sesame bagian saudara sebangsa (ukhuwah wathaniyah) yang teta[ berbeda akidahnya, namun terikat oleh komitmen kebangsaan.

“Sehingga harus hidup berdampingan dengan prinsip perjanjian damai ( mu’ahadah atau muwatsaqah) untuk menjaga kedamaian dan kerukunan bangsa Indonesia,” tegas Din.

Umat Islam, lanjut Din,  juga harus terus menjaga soliditas spirit kejamaahan umat dalam menjaga hak keberagamaan, keumatan, dan hak konstitusi, serta melaksanakan kewajibannya menjaga Pancasila, NKRI, UUD 1945 sesuai amanar perjuangan kemerdekaan Indonesia. Yakni bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Kemudian, umat Islam bersama seluruh komponen bangsa terus meningkatkan gerakan kemandirian perekonomian Indonesia yang berangkat dari akar agama dan budaya Indonesia sendiri, dimana bagi umat Islam ekonomi syariah termasuk di dalamnya dan memiliki hak yang sama dan setara dalam pengembangan perekonomian bangsa.

Terpenting lagi, menurut Din, umat Islam harus memperkuat wawasan kepemimpinan bagi umat sebagai gerakan pemberdayaan politik kebangsaan dalam memahami dan mensikapi konstalasi perpolitikan global yang determinan mempengaruhi pasang surutnya bagi kemaslahatan umat Islam dan bangsa Indonesia.

Din juga menegaskan, bahwa umat Islam semakin memperkuat perannya menjadi garda terdepan dalam mengantarkan bangsa Indonesia tetap berada di atas rel spirit kemerdekaan, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah rakyat Indonesia, serta memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Itu semua ditempuh sebagai tanggungjawab keagamaan (mas’uliyyah diniyyah) sekaligus memelihara kebangsaan (mas’uliyyah wathaniyyah) untuk memelihara keluhuran agama dan mengatur kesejahteraan kehidupan bersama (hirasat ad-din wa siyasat ad-dunya),” pungkas Din.