Imam Shamsi Ali

Shamsi Ali: Pasca 911, Konversi Warga AS Jadi Muslim Capai 4 Kali Lipat

[sc name="adsensepostbottom"]

Dakwah Islam di Amerika Serikat itu memberi tahu tentang Islam. Sementara membuat mereka memeluk Islam adalah pilihan yang mereka buat.

Imam Besar Masjid New York, Shamsi Ali mengisahkan perjalanan hidupnya. Pria lulusan S2 sebuah Universitas di Pakistan ini mengaku pernah mengajar di Arab Saudi, namun dia merasa tidak betah tinggal di negara tersebut.  Alasan Syamsi, karena Arab Saudi punya kecenderungan menyeragamkan pandangan agama.

Hingga akhirnya, datanglah tawaran kepada Syamsi untuk menjadi imam di sebuah masjid di New York Amerika Serikat (AS).  Di New York, Syamsi hidup rukun dalam bertetangga. Bahkan, tetangga dia kerap membantu membersihkan halaman rumah Shamsi.

“Awalnya saya curiga, tapi belajar bahwa agama tidak hanya di masjid, dalam kehidupan nyata harus bersaudara. Tapi Muslim di New York ekslusif, harusnya mau silaturahmi dengan tetangga,” ujar Shamsi dalam diskusi bertajuk “Kehidupan Beragama di AS,” di Pusat Kebudayaan Amerika @amerika, Jakarta, Rabu (25/1).

Shamsi berkisah lagi, peristiwa 11 September 2001, yakni Serangan di Tanah Amerika Serikat itu ada berkah dari musibah. Semua jadi korban, termasuk umat Muslim. “Karena saat AS terimbas, Muslim juga kena dampaknya. Yakni pasca 911, muncul kecurigaan terhadap Muslim. Saya pun jadi sering berkunjung ke gereja dan sinagog,” ungkap Ali.

Shamsi kembali menyampaikan, pertumbuhan Muslim di AS sebanyak 2,1 persen itu adalah disebabkan beberapa faktor. Sebelum peristiwa 911, perkembangan Islam di AS ditopang imigran terutama komunitas Bangladesh. Di New York, polulasi Muslim dari Bangladesh merupakan yang terbesar.

Saat George H. W. Bush jadi presiden AS, ada pendekatan kebijakan imigrasi. Tapi, ini membuka pintu lain konversi. Komuntas Muslim di sana tidak berusaha meng-convert orang AS, tapi mereka sendiri yang belajar Islam dan memutuskan konversi. ”Jangan salah paham. Dakwah Islam di AS itu memberi tahu tentang Islam. Sementara membuat mereka memeluk Islam adalah pilihan yang mereka buat,” tegas Shamsi.

Shamsi mengungkap lagi, komposisi 2,1 persen Muslim di AS itu mayoritasnya Afro America, dan mereka masih besar.  Dulu, kita kenal Nation of Islam. Awalnya ini bukan gerakan Islam. Tapi setelah menggunakan nama Islam, mereka jadi menemukan Islam yang sebenarnya.

Di AS tidak unsur agama dalam sensus penduduk. Maka, jumlah populasi Muslim di AS lebih sering hasil prediksi. Tahun 2001 saja, Muslim di AS diprediksi sudah 5-7 juta jiwa. Kalau sekarang prediksi sudah 8-9 juta jiwa.

[bctt tweet=”Muslim AS diprediksi kini mencapai 8-9 juta jiwa” username=”my_sharing”]

“Jangan lupa, pasca 911, laju konversi warga AS yang menjadi Muslim itu mencapai 4 kali lipat. Mereka yang konversi pun adalah kaum terdidik, berpenghasilan tinggi, dan berusia muda,” jelas Shamsi.