Kang Rashied

Jakarta Mendung Cinta!

[sc name="adsensepostbottom"]

Pemimpin yang sifatnya syaitan, pengusaha yang sifatnya srigala sehingga dia rakus satu salam lain.

Kang Rashied, dai kondang asal Bandung dalam tasyiahnya menyampaikan, bahwa saat ini umat sedang mendung, resah dan gelisah satu sama lain. Entah kenapa bisa seketika resah dan gelisah.

”Pemimpin resah dengan kursinya, pengusaha resah dengan investasinya, masyarakat resah dengan keadilannya, ulama pun resah dengan kepemimpinanya. Entah kenapa Jakarta sedang mendung satu sama lain saat ini,” ungkap Kang Rasheid di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Kang Rashied, hanya kekuatan cintalah yang bisa menjawab kegelisahan. Sebab kalau gelisah terus menerus, hati akan keras dan tidak salah kalau kemudian saling tusuk satu sama lain, akibat gelisah itu.

Kang Rashied berharap tidak ada inteloransi di negeri ini. Karena negeri ini menurutnya adalah negeri rahmatan lil alamin, bisa hidup satu sama lain. Tapi kenapa gelisah? Ya karena kurang cinta. Kurangnya hati di tata sehingga yang muncul adalah ambisi, amarah, sifat srigala dan sifat syaitan yang muncul di negeri ini.

”Pemimpin yang sifatnya syaitan, pengusaha yang sifatnya srigala sehingga dia rakus satu salam lain. Maka muncullah intoleransi saat ini,” ujar Kang Rashied.

Kembali Kang Rashied menegaskan, kegelisahan itu karena kurangnya cinta. Cinta itu memang tidak bisa didefinisikan, cuma bisa dirasakan. Para ahli tafsir, para ahli hadist tidak ada satupun yang bisa mendifinisikannya. Mereka hanya bisa menggambarkan cinta itu baru bisa ditangkap gelagatnya saja.

Kang Rashied berharap semoga kita semua bisa menangkap gegalat cinta. ”Kalau bahasa kita mah cinta itu sentrum. Kalau orang Bandung mah kereyed, lamun teu aya kereyed moal dapat cinta. Kita hanya dapat lampunya saja tapi tidak punya sentrum. Yang bisa menyetrumkan itu ya Rasulullah Shallaluhu’alaihi Wasallam ”Dia adalah sang pembawa cinta,” ungkap Rashied.

Rashied pun mencontahkan bangunan restoran karena paduan pondasi yang isinya empat faktor. Yaitu, besi, batu, semen, dan pasir. Silahkan beli semen holcim atau tiga roda, besi baja, pasir dan batu bata.

Namun menurut Rashied, tidak bisa berdiri itu besi dan batu bata, kalau tanpa air. Itu air meracik semen dan batu bata, berdirilah bangunan itu. Kalau bangunan sudah berdiri air menguap. Dalam pusaran cinta,  yang penting negeri ini aman. Ulama akan kembali ke pesantren kalau negeri ini aman. Ulama turun ke jalan karena negeri ini tidak aman.

Maka itu, Rashieh menegaskan, air adalah cinta kepada Allah SWT. Maka apa pun yang dihadangkan oleh air, dia akan menjadi hanyut. Api yang membara kalah sama air, besi yang keras karatan sama air, begitu juga batu yang keras bolong karena tertetes air.

Bahkan menurut Rashied, kita bisa melihat kekuasaan Allah SWT itu ketika pergi ke gua. Ada stalagni itu, air disiplin menetes terus menerus, batu gua itupun jadi bolong. Maka, Rashied mengatakan, bahwa dalam mengelola negeri ini dibutuhkan kesabaran cinta. Presiden sabar dengan cinta menghadapi masyarakatnya, para ulama sabar mengawal umat, begitu pula pengusaha sabar tidak mau maling, mau jujur saja.

”Cinta terus meneteskan cinta. Insya Allah hati yang keras menjadi luluh. Nah kita perlu air itu yang diibaratkan cinta. Kalau tidak dapat air, keras satu sama lain. Benci satu sama lain, mengeluarkan taring satu sama lain karena kekurangan cinta,” ujar Rashied.

Dalam Al-Quran surat Maryam ayat 96 sangatlah jelas disampaikan ”Innalladziina aamanuu wa’amilusshoolihaati sayaj’alu lahumurrohmaanu wuddaa.” Artinya, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.”

”Ketika kita sudah menyatakan iman kepada Allah SWT dengan shalat, zakat, toleransi, jujur, dan sabar. Allah SWT akan tanamkan di hati kita rasa cinta,” pungkas Rashied.