LPEI tercatat sebagai penerbit obligasi rupiah terbesar.
Plt Ketua Dewan Direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Susiwijono Moegiarso mengatakan, selama tujuh tahun mulai 2009-2016, kinerja LPEI mencapai kinerja sangat solid. Pertumbuhan aset rata-rata naik 37,22 persen dan pembiayaan tumbuh 42,23 persen per tahun. Di 2016 LPEI membukukan aset Rp 99,01 triliun dengan pembiayaan Rp 88,48 triliun. Sementara, outstanding penjaminan dan asuransi mencapai Rp 8,13 triliun dan Rp 9,43 triliun.
Pada 2017, penyaluran pembiayaan diperkirakan terus meningkat, dengan 10 persen pembiayaan akan disalurkan ke sektor UKM berorientasi ekspor. “Di 2017 ini kami ditargetkan untuk membukukan aset sebesar Rp 115,1 triliun dengan pembiayaan Rp 102,6 triliun dan penjaminan dan asuransi menjadi Rp 18,9 triliun,” katanya dalam Investor Gathering LPEI 2017, Selasa (7/2).
Ia memaparkan pihaknya pun telah menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan kinerja LPEI di 2017. “Kami akan meningkatkan fokus pembiayaan ke beberapa sektor komoditi unggulan pemerintah, penetrasi ke pasar ekspor non traditional market, mendorong UMKM berorientasi ekspor dan melaksanakan penugasan khusus bersama dengan beberapa BUMN,” jelas Susiwijono.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Untuk mendukung strategi tersebut, LPEI tentu membutuhkan sumber pendanaan. Susiwojono mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, LPEI dapat memerolehnya melalui penerbitan surat berharga, pinjaman jangka pendek dan panjang (termasuk pinjaman dari pemerintah), hibah dan penempatan dana oleh Bank Indonesia.
Sampai 2016 sumber pendanaan utama berasal dari penerbitan surat berharga. Posisi sampai 2016 outstandingnya sebesar Rp 39,9 triliun, terdiri dari Rp 32,7 triliun dalam mata uang Rupiah dan dalam valas ekuivalen 530 juta dolar AS. “Di 2017 kami rencanakan penerbitan obligasi rupiah sebesar Rp 14 triliun dan valas 500 juta dolar AS,” ujar dia.
Direktur Pelaksana III LPEI Raharjo Adisusanto menambahkan, sejak 2010 LPEI menerbitkan obligasi rupiah secara berkesinambungan setiap tahun. “Dalam enam tahun terakhir LPEI tercatat sebagai penerbit obligasi rupiah terbesar dengan outstanding Rp 32,7 triliun atau 11 persen dari total outstanding korporasi dalam valuta Rupiah,” katanya.
Ia melanjutkan, saat ini LPEI pun telah menyelesaikan bookbuilding obligasi dengan target dana Rp 3 triliun. Namun, hasilnya terjadi oversubscribe (kelebihan permintaan) mencapai Rl 5,2 triliun. “Sampai akhir Desember 2016 kami mendapatkan utang dari penerbitan obligasi dan memperoleh pinjaman dengan total Rp 78 triliun, sehingga berhasil me-leverage 7,33 kali dari modal disetor pemerintah,” pungkas Raharjo.

