Koperasi Harus Berkontribusi untuk Pembangunan Ekonomi

[sc name="adsensepostbottom"]

Kalau fondasi tidak kuat, makan bangunan koperasi akan rubuh.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengatakan, koperasi belum memberi kontribusi maksimal terhadap perekonomian Indonesia. Untuk itu, para pemangku kepentingan koperasi menuju pembangunan 2045 harus menentukan apakah koperasi untuk membangun ekonomi Indonesia bersama dan sejajar dengan kekuatan ekonomi lainnya seperti BUMN dan swasta atau hanya menjadi pilar ekonomi.

Demikian diungkapkan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram dalam Focus Group Discussion Pra-Kongres Koperasi ke-3 di Hotel Ibis, Bandung, Jawa Barat, Senin (6/3).

“Pilar hanya sebagai penyangga, kalau fondasinya tidak kuat, maka bangunan koperasi akan rubuh,” kata Agus dalam keterangan resminya yang diterima MySharing, Selasa (7/3).

Menurut Agus, usaha mikro dan kecil merupakan mayoritas dan sudah menjadi fondasi ekonomi dalam negeri. Sementara usaha menengah merupakan lantainya, sedangkan usaha besar adalah atapnya. Apabila ingin membangun ekonomi ada tiga kekuatan yang menopang, yaitu koperasi, BUMN, dan swasta. Saat ini, swasta menyumbang 39 presen, UMKM sebesar 61 presen, dan sisanya BUMN,” jelasnya.

Agus menegaskan, kalau koperasi tidak dibangun sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945, UU Koperasi bisa saja di masa mendatang atau trennya hingga 2045, pembangunan ekonomi Indonesia bisa berasal dari swasta semua yang berbasis modal dan individualistik. Apabila sejak awal pembangunan ekonomi tidak diatur, swasta akan mendominasi semua karena dunia sudah semakin terbuka.

Apalagi, ungkap Agus, dunia semakin mengglobal dengan adanya kemajuan teknologi transportasi, telekomunikasi/informasi dan travel atau yang dikenal dengan Triple T Revolution. Maka itu, pendirian koperasi harus dipermudah dan didorong untuk bergerak online agar bisa berkompetisi dan mengedepankan kualitas.

Jika ada suara-suara atau kebijakan untuk mempersulit pendirian koperasi, Agus mengingatkan, itu seharusnya tidak terjadi. Dan menurutnya, bukan masalah kalau koperasi yang baru didirikan tidak punya kegiatan, karena koperasi tersebut akan bubar terseleksi secara alamiah.

Menurutnya, hanya koperasi yang berkualitas, sehat, kuat serta mandiri dan tangguh yang akan bertahan. “Jadi kalau dipersulit dalam membuat koperasi tidak bagus, karena kalau sudah masuk dalam era kompetisi, harus mengedepankan kualitas,” tegasnya.

[bctt tweet=”Agus: Harus ada reorientasi dari koperasi tradisional ke modern!” username=”my_sharing”]

Agus pun mengingatkan, jika koperasi ingin bertahan, harus ada perubahan berupa reorientasi dari koperasi tradisional ke modern. “Contohnya, koperasi di Jepang sudah menggunakan kontainer kecil untuk mengangkut komoditas pangan sehingga tidak mudah busuk. Sementara di Indonesia, cabai dan tomat diangkut oleh mobil bak terbuka,” pungkasnya.