Pangsa aset UUS CIMB Niaga mencapai 5,45 persen.
Unit usaha syariah (UUS) CIMB Niaga membukukan kinerja positif sepanjang 2016. Sampai 31 Desember 2016, aset tercatat tumbuh 40,34 persen menjadi Rp 12,78 triliun dari periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 9,11 triliun. Kenaikan ini turut meningkatkan pangsa pasar UUS CIMB Niaga terhadap total bank umum konvensional, dari 3,9 persen menjadi 5,45 persen.
Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P Djajanegara menuturkan, pertumbuhan aset didorong oleh pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) yang sepanjang 2016 menunjukkan peningkatan signifikan. Pembiayaan dan DPK naik 40,2 persen. Di akhir 2016, pembiayaan tercatat sebesar Rp 10,21 triliun dan DPK sebesar Rp 10,63 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan terjadi pada seluruh segmen bisnis, khususnya di business banking. Untuk lini business banking ini terbagi menjadi korporasi, commercial banking, dan usaha kecil dan menengah. Pada 2016 komposisi pembiayaan pun banyak di business banking yang merupakan sektor produktif. Berbeda dengan 2015 dimana porsi consumer banking lebih banyak.
“Ini yang memang diinginkan OJK dan ada aturan POJK di 2018 minimal harus 60 persen di sektor produktif, maka di 2016 sektor produktif kami ada 52-53 persen, sisanya konsumer. Dari business banking ini kenaikannya paling besar dipicu segmen korporasi, yang paling besar dari proyek infrastruktur jalan tol, dan perkebunan,” jelas Pandji.
Sementara, untuk pembiayaan konsumer pertumbuhannya paling besar dari pembiayaan kepemilikan rumah. “Pembiayaan konsumer kami naik lebih dari 100 persen dan untuk tahun ini KPR jadi pilar pembiayaan konsumer,” ujarnya. Pada 2016 pembiayaan KPR UUS CIMB Niaga mencapai Rp 2,7 triliun.
Dari sisi DPK, tahun lalu UUS CIMB Niaga juga tumbuh 40 persen. Di sisi lain, bagi hasil kepada nasabah juga turun dan membuat persentase dana murah meningkat. “Ini berarti kami berhasil menurunkan biaya dana dan rasio dana murah tumbuh dari 45 persen menjadi 50 persen di 2016,” jelas Pandji.
Selain itu, UUS CIMB Niaga juga berhasil meningkatkan porsi jamaah haji pada 2016, sehingga rasio dana murah meningkat. “Kalau 2015 porsi jamaah haji sampai 2000-an, tahun lalu sudah sampai 13 ribu jadi kami bisa menaikkan cukup tinggi. Itu salah satu alasan kami bisa memperbaiki rasio dana murah,” katanya.

