UUS Permatabank Fokus di Konsumer

[sc name="adsensepostbottom"]

KPR Syariah mendominasi pembiayaan KPR Permatabank.

Direktur Syariah Banking Permatabank Achmad Kusna Permana mengatakan, bisnis unit usaha syariah (UUS) Permatabank masih bertumbuh positif di tahun lalu. Di akhir 2016, UUS Permatabank mencatat aset sebesar Rp 16,4 triliun, pembiayaan Rp 13 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) Rp 14 triliun.

“DPK masih tumbuh meski tak besar yaitu sekitar tiga persen. DPK tahun lalu itu karena kami ganti portofolio dari korporat ke konsumer. Tahun lalu untuk corporate, kami hampir tidak ksana karena ada runoff,” katanya ditemui usai penandatanganan kerja sama Permatabank dengan Indosat Ooredoo, Kamis (16/3).

Menilik dari perkembangan tahun lalu, ia mengungkapkan tahun ini pihaknya masih akan fokus ke konsumer. Di sisi lain, korporat pun akan didorong meski tidak akan terlalu agresif. “Target pembiayaan secara keseluruhan tumbuh antara 15-19 persen. Untuk pembiayaan ini kami fokus di pembiayaan aset, seperti pembiayaan KPR dan otomotif melalui Astra,” ujar Permana.

UUS Permatabank pun kini mendominasi booking pembiayaan KPR di Permatabank. “Kami bisa menyiapkan biaya dana lebih murah sehingga saat ini KPR Permatabank sekitar 60 persen booking via syariah. Karena biaya dana murah jadi bank dapat margin lebih tinggi. Selain itu, ada keunikan di bank syariah dengan financing to value ratio yang bagus, maka membuat booking KPR lebih banyak di syariah,” jelasnya.

Setiap bulan UUS Permatabank mencatat booking KPR antara Rp 400-500 miliar per bulan. Saat ini pembiayaan KPR mendominasi portofolio pembiayaan UUS Permatabank. “Karena pembiayaan korporasi turun sekitar 10-15 persen, sedangkan KPR tumbuh 35 persen, jadi sekitar Rp 5triliun-Rp 6 triliun dari total pembiayaan,” cetus Permana.

Di lain pihak, lanjut dia, KPR juga terbukti menjadi salah satu lini bisnis yang mencatat portofolio pembiayaan bermasalah yang baik. “Permatabank salah satu bank yang berpengalaman main di KPR, bekerja sama dengan developer dan agen yang bagus. Gross pembiayaan bermasalah KPR di bawah dua persen,” tandasnya.