(ki-ka): Ketua Wantim MUI Din Syamsuddin, Kapolri Tito Karnavian, Wakil Wantim MUI Didin Hafiduddin, Sekjen Wantim MUI Natsir Jubaidi pada rapat pleno ke 16 bertajuk "Dialog Ulama-Ulama : Meneguhkan Kondusifitas Umat", di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (21/3). MySharing.

Polri Selalu Dijadikan Kambing Hitam!

[sc name="adsensepostbottom"]

Dalam setiap konflik,  polisi selalu berada dalam keadaan tertekan, diibaratkan daging diantara sandwich.

Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI)  menggelar rapat pleno ke 16  di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (21/3).

Rapat pleno bertajuk “Dialog Ulama-Ulama: Meneguhkan Kondusifitas Umat”, ini merupakan dialog dari hati ke hati bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang dihadiri sekitar 30an peserta dari berbagai ormas Islam.

Ketua Wantim MUI Din Syamsuddin mengatakan, dialog ini bersama Kapolri ini merupakan yang ketiga kalinya.”Mari kita gunakan kesempatan ini untuk berdialog dari hati ke hati,” ujar Din.

Namun, sebelum dialog dimulai, Din mengajak perserta dialog untuk mendoakan mantan ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, yang baru wafat pada Kamis (16/3) kemarin.

Din Syamsuddin, Kapolri Tito Karnavian, Didin Hafiduddin,  Natsir Zubai, Rasmin Zaitun (Wasekjen Wantim MUI) dan peserta lainnya menengadahkan tangannya dan mendoakan almarhum KH. Hasyim Muzadi.   

Setelah doa, dialog pun dimulai. Dalam paparannya, Kapolri menyampaikan tentang kebhinnekaan yang harus dirawat oleh rakyat Indonesia termasuk oleh MUI. “Saya ingin lebih menyampaikan topik kebhinnekaan. Karena ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujar Tito.

Namun demikian, keluh Titor, sayangnya selama ini, Polri selalu dijadikan kambing hitam dalam setiap ada konflik. Bahkan, kata Tito, berdasarkan salah satu pepatah dari Inggris, polisi dianalogikan seperti halnya daging di antara sandwich. “Ada konflik sosial, politik, termasuk konflik keagamaan. Polisi selalu berada dalam keadaan tertekan, baik dari bawah atau atas,” tukas Tito.

Oleh karena itu, Tito mengajak kepasa seluruh lapisan masyarakat untuk selalu menjaga kebhinnekaan dan mencegah adanya perpecahan antarkelompok apapun di negari tercinta Indonesia ini. Tito menegaskan, jika kebhinnekaan tidak ada masalah, kita bersyukur. Tapi jika ada masalah, kita harus merawatnya.

 

.