Radikalisme dan terorisme berasal dari pemahaman yang keliru dalam agama, khususnya memahami makna jihad.
Pada Workshop Pencegahan Propanganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama OKP dan Ormas, di Hotel Mellenium, Jakarta, Rabu malam (22/3), Rais Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin mengajak seluruh media online untuk bersatu dan serentak menyuarakan konten-konten damai kontra radikalisme. Tujuannya agar masyarakat paham dan dapat menerima konten yang benar dalam mencari informasi.
Menurut Ma’ruf, masalah radikalisme dan terorisme kini telah menjadi bahaya global. “Karena telah menjadi dharar (bahaya), persoalan ini harus ditangkap dengan berbagai cara, termasuk melalui dunia maya,” ujar Ma’ruf saat memberikan pengarahan kepada peserta workshop.
Lebih lanjut Ma’ruf menjelaskan, radikalisme dan terorisme berasal dari pemahaman yang keliru dalam agama, khususnya memahami makna jihad. Salah satu makna jihad adalah perang. Tetapi tidak hanya itu, jihad juga dapat bermakna perbaikan (islahan).
“Dalam situasi perang, jihad bermakna perang. Dalam situasi damai, jihad itu perbaikan. Jadi jihad bukan hanya perang, namun jihad bisa bermaksa perbaikan segala aspek seperti sosial, budaya, politik dan sebagainya,” jelas Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.
Menurut Ma’ruf, lebih keliru lagi apabila jihad dilakukan di seluruh dunia (global war) dengan berpandangan tidak ada daerah damai. Padahal, Indonesia termasuk wilayah damai
Ketua Umum MUI ini lebih keliru lagi bila jihad dilakukan di seluruh dunia (global war) dengan berpandangan tidak ada daerah Menurut damai. Padahal Indonesia termasuk negara damai yang dibangun di atas kesepakatan dan perjanjian dari berbagai agama dan suku, maka radikalisme dan terorisme harus dilawan. ”Indonesia merupakan darussalam, negara damai yang bukan wilayah perang,” tegas M’ruf.
Mengingat dalam pendirian negara ini juga telah ada perjanjian-perjanjian termasuk antara Muslim dan non Muslim. Maka, kata Ma’ruf, non Muslim itu kalau sudah mengikat perjanjian tidak boleh dibunuh. Mereka Muahadah, jika dibunuh maka yang membunuh akan mencium baunya surga. ”Jadi, begitu ketatnya kita harus menghormati konsensus itu. Umat Islam harus penuhi,” tegasnya.
Kyai karismatik ini juga mengkritik penggunaan ayat-ayat perang diterapkan di wilayah damai. Karena menurut Ma’ruf, hal itu tidak tepat baik secara tempat dan waktu.
Oleh karena itu, kata Ma’ruf, NU sebagai ormas keagamaan mengedepankan prinsip ukhuwah (kebersamaan) yang disebut tri ukhuwah. ”Yaitu ukhuwah wathaniyyah (kebersamaan dan bernegara), ukhuwah islamiyah (kebersamaan dalam agama Islam), dan ukhuwah insyaniyah (kebersamaan secara manusia),” ungkap Ma’ruf.

