Jajaran Direksi PT Bank BNI Syariah (Dari Kanan: Direktur Operasional Junaidi Hisom, Direktur Utama Imam Teguh Saptono, dan Direktur Bisnis Kukuh Rahardjo) menerima penghargaan dari Karim Consulting tahun lalu. Foto: BNI Syariah

BNI Rombak Jajaran Direksi BNI Syariah

[sc name="adsensepostbottom"]

Kendati bisnis tumbuh positif, BNI merombak manajemen BNI Syariah.

BNI Syariah mengalami perubahan manajemen per 23 Maret 2017 usai menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dalam siaran pers yang diterima MySharing, Jumat (24/3), terjadi perubahan dua direktur di jajaran direksi BNI Syariah.

Pada RUPSLB per tanggal 23 Maret 2017 mengenai perubahan Manajemen BNI Syariah, pemegang saham BNI Syariah memutuskan mengakhiri penugasan dua direksi. RUPSLB tersebut menetapkan pengakhiran masa tugas Imam Teguh Saptono sebagai Direktur Utama dan Kukuh Rahardjo sebagai Direktur Bisnis Konsumer BNI Syariah.

Selanjutnya RUPS mengangkat Abdullah Firman Wibowo sebagai Direktur Utama dan Dhias Widhiyati sebagai Direktur. Keduanya efektif setelah mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebelumnya Abdullah adalah GM Divisi Pengelola Perusahaan Anak BNI dan Dhias Widhiyati adalah SEVP Bisnis Komersial BNI Syariah.

Kinerja Bisnis BNI Syariah tahun 2016

BNI Syariah mengalami pertumbuhan positif tahun lalu dengan posisi laba sebesar Rp 277,37 miliar atau meningkat 21,38 persen dari Desember 2015 sebesar Rp 228,52 miliar. Kenaikan laba didukung oleh komposisi rasio dana murah (CASA) yang meningkat yakni 47,63 persen, lebih baik dari tahun sebelumnya sebesar 46,15 persen dan efisiensi penurunan biaya operasional (BOPO) menjadi 87,67 persen dimana sebelumnya sebesar 89,63 persen. Sementara dana pihak ketiga meningkat sebesar Rp24,23 triliun, tumbuh 25,41% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp19,32 triliun.

Dari segi aset BNI Syariah pun tumbuh positif yakni posisi per Desember 2016 sebesar Rp28,31 triliun atau naik 23.01 persen dari posisi Desember 2015 sebesar Rp 23,01 triliun. Hal ini didukung dengan penyaluran pembiayaan sebesar Rp 20,49 triliun, yang terbagi menjadi empat segmen diantaranya ritel produktif dan komersial sebesar Rp 8 triliun, pembiayaan konsumer sebesar Rp 10,91 triliun, pembiayaan mikro sebesar Rp 1,20 triliun dan Hasanah Card sebesar Rp 367,59 miliar dengan tetap menjaga kualitas pembiayaan (NPF) tetap terjaga dibawah 3 persen.

Akhir 2016 market share BNI Syariah terhadap industri perbankan syariah pun sebesar 7,94% dengan memberikan kontribusi laba sebesar 13,23 persen. Hal tersebut membawa BNI Syariah pada peringkat aset terbesar ke-3 di industri perbankan syariah kategori Bank Umum Syariah (BUS).

BNI Syariah bermula sebagai Unit Bisnis Strategis bagian dari BNI yang mulai beroperasi sejak 29 April 2000. Pada 19 Juni 2010 status BNI Syariah meningkat menjadi BUS. Komposisi kepemilikan saham BNI Syariah adalah 99,90% dimiliki oleh BNI dan sisanya dimiliki oleh PT BNI Life.