Indonesia Berpotensi Jadi Kiblat Kajian Islam

[sc name="adsensepostbottom"]

43 persen Muslim Indonesia berusia di bawah 25 tahun.

Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin menilai Indonesia berpotensi menjadi kiblat dan destinasi kajian Islam di dunia. Menurut Kamaruddin, ada beberapa alasan potensi besar Indonesia jadi kiblat kajian Islam. Pertama, karakter keberagamaan di Indonesia relatif lebih kompatibel dengan modernitas dan demokrasi.

“Karakter ini yang justru menjadi sisi lemah keberagaman negara Timur Tengah sebagai tempat lahirnya Islam (origin of Islam). Hubungan agama dan negara di beberapa negara lain, seperti Pakistan juga belum harmonis dan masih cenderung eksploitatif. Potret keberagamaan di Iran juga determinasi religiousitas sehingga resisten untuk menjadi kiblat kajian,” katanya dilansir dari laman Kementerian Agama, Rabu (29/3).

Kedua, Muslim Indonesia saat ini 43 persen di antaranya berada pada rentang usia 25 tahun ke bawah. Indonesia saat ini bahkan sedang berproses untuk menikmati bonus demografi. Ketiga, Indonesia memiliki ribuan madrasah dan pesantren. “Semuanya secara massif mengajarkan Islam rahmatan lil alamin,” ujar Kamaruddin.

Keempat, Indonesia memiliki struktur sosial keberagamaan yang kuat seiring keberadaan NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya. “Semuanya mengusung moderatisme Islam. Kalau Islam Indonesia hari ini compatible dengan modernitas dan demokrasi, maka itu tidak bisa dilepaskan dari keunggulan Indonesia tersebut,” tuturnya.

Sebagai kiblat yang potensial, sudah saatnya Islam Indonesia dipromosikan ke Eropa dan Barat. Tawaran Islam Indonesia atau Islam Nusantara diharapkan dapat mengurai persoalan akulturasi budaya seiring adanya kecurigaan dan ketakutan dalam relasi Islam dan Eropa. “Di sinilah, Islam Indonesia bisa memberikan tawaran model akulturasi. Islam Nusantara menjadi implementasi cerdas dialog Islam dengan realitas budaya,” pungkas Kamaruddin.