Relawan Gema Jakarta Satukan Hati Kawal Pilgub Jakarta

[sc name="adsensepostbottom"]

Mujahidin dan mujahidah itu satukan tekad kawal Pilgub untuk wujudkan gubernur Muslim Jakarta.

Derasnya hujan di sore itu, Selasa (28/3) tidak menyurutkan tekad para mujahidin dan mujahidah untuk hadir di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru.

Ruangan itu pun dipadati para jamaah yang ingin menyatukan tujuan yakni mengawal Pemilihan Gubernur ( Pilgub) DKI Jakarta putaran 2 pada 19 April 2017 mendatang.

Ribuan jamaah relawan kawal Pilkada itu, menyatukan visi dan misi dalam balutan Gema Jakarta. Yakni sebuah lembaga adhoc yang didirikan oleh para ulama.

Saking padatnya ruangan itu, acarapun dipindahkan ke Masjid Agung Al Azhar, tepatnya di lantai 2.Ruang masjid itu sekejap penuh, bahkan hingga acara dimulai pun jamaah terlihat terus berdatangan. Salah satunya Yenny Puspitasari,  warga Dukuh Utara Koja, Jakarta Utara.

Yenny yang duduk tepat disamping tim MySharing, terlihat kedinginan. Maklum saja karena busana Muslim Yenny basah terkena air hujan saat diperjalanan menuju Masjid Agung Al Azhar, tempat konsolidasi Relewan Gema Jakarta kawal Pilgub.

“Saya kedinginan, baju saya basah. Alhamdulillah saya bisa sampai ke sini gabung bersama relawan lain,” ujar Yenny yang sejak Pilgub putaran 1 sudah jadi relewan.

Yenny mengaku sangat prihatin dengan kondisi Jakarta saat ini, tepatnya pada pilkada ini. Dimana tim paslon 2 begitu gencarnya propaganda untuk jatuhkan paslon 3. Bahkan, kata dia, di wilayah tempat tinggalnya gerakan fajar sudah dikomandangkan, yakni kaum lansia didata oleh RW/ RT didatangi ke rumah-rumah.

Janji serangan itu adalah lansia akan dikasih uang Rp 600 ribu perorang seumur hidup, syaratnya pilih Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Jika Ahok menang, jaminan uang Rp 600 ribu setiap bulan seumur hidup lansia itu pun akan diberikan.

“Ibu saya sudah lansia di data RT, dijanjiin uang Rp 600 ribu setiap bulan seumur hidup. Syaratnya Ahok harus menang. Tapi ibu saya tidak berkenan. Lansia lain pun sudah didata, dan data itu sudah masuk kelurahan,” ungkap Yenny.

Pendataan lansia ini, lanjut Yenny, dari informasi yang didapat memang perintah dari atas kepada semua RW n RT di Jakarta.Namun demikian, tidak semua RT dan RW berkenan menjalankan perintah ini. “Ada sebagian RT patuh perintah ini, tapi banyak juga yang hatinya istiqomah,” ujar Yenny.

Yanti, warga Ciracas, Jakarta Timur, yang juga relawan Gema Jakarta, mengatakan demikian. Bahwa RT dan RW di wilayahnya sangat tegas menolak perintah untuk mendata lansia dengan iming-iming uang jika Ahok menang. ” Saya salut dan bangga dengan ketua RT dan RW, mereka istiqomah tidak memaksa warganya menjual akidahnya,” katanya.

Sementara kata Yanti, di kelurahan Utan Kayu ada kisruh antara lurah dan para RW terkait surat perintah tersebut. Para RW disana kompak menolak dan siap dipecat. “Akidah itu tidak bisa ditawar-tawar,” ujarnya.

Selain Yenny dan Yanti, ada Irma, warga Ciracas juga yang baru mendaftar jadi relewan. Irma datang bertiga temannya dengan tekad yang sama yakni ingin mengawal Pilkada dengan aman tanpa ada kecurangan.”Saya prihatin dengan gejolak pilkada di Jakarta, penuh intrik curang tim sebelah segala cara dihalalkan. Saya iklas jadi pengawal pilkada untuk menangkan gubernur Muslim,” ujarnya.

Ribuan relewan lain pun terlihat antusias dengan iklas untuk kawal kemenangan gubernur Muslim Jakarta 2017.” Allahu Akbar saya iklas tuk wujudkan gubernur Muslim Jakarta. Tidak ada bayaran.Insya Allah keberkahan dunia akherat akan saya dapatkan dari Allah SWT,” tegas Safira.

Safira juga yakin kalau semua relewan Gema Jakarta baik mujahidin maupun mujahidah berhati iklas tanpa pamrih dengan satu tujuan yang sama yaitu mengawal Pilkada Jakarta wujudkan gubernur Muslim.