Ustad Bachtiar Nasir saat memberikan sambutan saat setelah dinobatkan sebagai Tokoh Pembukuan Islam 2017 dalam Islamic Book Awad 2017 pada gelaran Islamic Book Fair (IBF) ke 16 tahun 2017 di JCC, Senayan, Rabu (3/5).Foto:MySharing.

Ustad Bachtiar Nasir: Jika Hanya Pintar, Kita akan Melenceng

[sc name="adsensepostbottom"]

Tidak akan bertambah ilmumu, ketika kita tidak takut kepada Allah SWT.

Pimpinan  Ar-Rahman Quranic Learning Centre (AQL) KH Bachtiar Nasir dinobatkan menjadi Tokoh Perbukuan Islamic Book Award 2017 dalam gelaran Islamic Book Fair (IBF) 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (3/5).

Dalam sambutannya, Ustad Bachtiar mengatakan, ada satu pegangan yang menjadi prinsip hidup dirinya terkait keilmuan yaitu, surat Ali Imran ayat 18 : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Ali Imran: 18).

“Ukuran keilmuan seseorang sangat jelas sekali,yakni diukur dari rasa takutnya kepada Allah SWT, bukan banyak sedikitnya karya tulisnya. Bukan!,” tegas Ustad Bachtiar.

Oleh karena itu, kata Ustad Bachtiar, Imam Bukhari menulis Shahih Bukhari dimulai dengan bab niat. Seorang ayah bijaksana berkata kepada anaknya, “Nak, setiap kali kamu usai menulis satu kalimat ilmu berhentilah sejenak lalu tanyakan pada hatimu, bertambahkah rasa takutmu kepada Allah SWT? Jika tidak maka jangan teruskan. Tidak ada yang bertambah dari ilmumu ketika kita tidak takut kepada Allah SWT,” katanya.

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) ini melanjutkan, seorang ulama jika selesai menulis buku dan dia yakin bahwa itu spektakuler kemudian muncul kesombongan dalam jiwanya,  maka dirobek semua buku itu, ketika buku itu tidak membekas rasa takut kepada Allah SWT, setelahnya. Tetapi itu saja tidak cukup, apalagi saat ini di Indonesia. Jika hanya pintar kemungkinan besar kita akan melenceng, tidak cukup hanya cerdas dibutuhkan keberanian untuk menegakkan keadilan sebagai seorang ilmuwan.

Allah SWT bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. “Ada yang menarik dari tadabbur Surat Ali Imran ayat 18 yang menjadi pegangan hidup saya dan terus belajar untuk menjalaninya,” ujar Ustad Bachtiar.

Hal yang menarik  dari tadabbur surat Al Imran ayat 18 itu, yakni Allah SWT mensejajarkan antara malaikat dengan orang yang berilmu. Para ulama menafsirkan ukuran keilmuan seseorang diukur dari apakah dia sudah menegakkan keadilan setelah dia mengakui bahwa tidak ada sesembahan selain Allah SWT dan itu adalah puncak kesadaran berilmu. Kemudian selanjutnya di tingkat iplementasi bersama para malaikat menegakkan keadilan.

“Tapi memang risiko menjadi penegak keadilan itu adalah dibunuh. Menjadi ilmuwan yang jujur memang berat karena pelacur intelektual jauh lebih hina dari pelacur seksual. Di sinilah pertaruhannya sehingga tidak cukup hanya dengan pintar, dibutuhkan keberanian untuk menegakkan keadilan Qaaiman bil qisti,” tukas Ustad Bachtiar.

Tetapi, lanjut dia, para ilmuwan sejati yang menegakkan keadilan punya pegangan yang kuat diujung ayat itu “Laa ilaha illa huwa al azizul hakim. Allah SWT yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia yang tidak pernah terkalahkan,  Maha perkasa dan Maha yang menempatkan sesuatu atau akibat sesuatu pada tempatnya.

Ustad Bachtiar menuturkan, Islam dan umat Islam Indonesia sudah diberikan izzah-nya oleh Allah SWT dan perjuangan terakhir adalah menegakkan keadilan Bela Islam. Ini adalah pertarungan hidup yang paling tinggi khususnya di Indonesia. Pertama, menegakkan struktur sosial Islam. Jika ingin kuat fatwa ulama harus menjadi pegangan umat Islam. Kedua, kepemimpinan informal ulama harus menjadi bagian dari budaya Islam Indonesia. Ketiga, delegitimasi ulama dan delegitimasi majelis ulama adalah puncak keruntuhan umat Islam di Indonesia.

[bctt tweet=”Dibutuhkan keberanian untuk menegakkan keadilan!” username=”my_sharing”]

“Karena itu petaruhannya adalah antara hidup dan mati demi Islam di Indonesia dan kita perjuangkan bersama,  inysaAllah,” tegas Ustad Bachtiar disambut takbir Allahu Akbar.