Pembayaran bunga utang semakin menggerogoti anggaran setiap tahunnya.
Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengkritisi rencana pemerintah melakukan belanja ekspansif seperti yang tertuang dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018.
Ekonom Indef M. Reza Akbar menyebutkan, pemerintah boleh saja melakukan belanja yang ekspansif, namun harus melihat kemampuan penerimaan negara. Karena menurutnya, arah kebijakan fiskal ekpansif lewat belanja produktif sangat tergantung kepada kemampuan penerima, khususnya perpajakan.
“Sebagus apapun programnya, jika kantong kering tetap tidak akan jalan. Jadi melakukan belanja ekspansif, pemerintah harus melihat kemampuan,” ujar Reza dalam diskusi bertajuk “RAPBN 2017 : Pertaruhan Kebijakan Fiskal Jokowi” di kantor Indef, Jakarta, belum lama ini.
Seperti diketahui, pendapatan negara dalam RAPBN 2017 direncanakan sebesar Rp 1.878,4 triliun. Dari jumlat tersebut, penerimaan perpajakan direncanakan sebesar Rp 1.609,4 triliun,da penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp 267,9 triliun.
Sementara itu, Belanja Negara dalam RAPB 2018 direncanakan sebesar Rp 2.204, 4 triliun, yakni terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp 1.443,3 triliun, yang terdiri dari Rp 814 triliun belanja kementerian atau lembaga dan belanja non kementeria atau lembaga Rp 629 triliun.
Sementara itu, dana transfer ke daerah dan dana desa di RAPBN 2018 sebesar Rp 761, triliun. Terdiri dari Rp 701 triliun transfer ke daerah. dan Rp 60 triliun dana desa.
Reza berharap pembahasan RAPBN 2018, antara pemerintah dan DPR melahirkan angka belanja yang riil, bukan sekedar berpatokan pada asumsi makro. Yaitu, kata dia, pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kemampuan kas negara membiayainya.
“Berpangku tangan pada pembiayaan utang, sejatinya sah-sah saja. Ya asal digunakan untuk proyek produktif. Tapi, pembayaran bunga utang juga semakin menggerogoti anggaran setiap tahunnya,” ungkap Reza.
Reza berharap dengan total Rp 2.204 trilun di RAPBN 2018, pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4 persen pada tahun depan.

