Jusuf Kalla Ajak Emiten Tingkatkan Investasi di Sektor Riil

[sc name="adsensepostbottom"]

Jangan selalu menjadi indikatornya adalah indeks (IHSG), karena indeks itu supply and demand, banyak orang banyak uang.

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) mengajak para emiten yang ada di pasar modal untuk  meningkatkan investasinya di sektor riil. Sebab, menurutnya, investasi sektor riil merupakan salah satu penggerak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Satu-satunya yang perlu ditingkatkan adalah investasi riil, bukan hanya investasi di pasar modal saja,” ujar Jusuf Kalla saat membuka pasar modal di Bursa Efek Indonesia, Jakarta,  Selasa (2/1).

Dijelaskan JK,  rata-rata indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berjalan dengan baik. Namun, pertumbuhan ekonomi di dalam negeri masih tertinggal dari negara lain. JK pun mencontohkan, pertumbuhan industri ritel sudah cukup baik akan tetapi 94 persen barang-barang yang dijual di e-commerceberasal dari Cina.

Hal tersebut menurutnya, menunjukkan bahwa produktivitas di Indonesia masih belum sesuai dengan harapan. Maka itu,  pangsa pasar Indonesia yang besar harus dimanfaatkan oleh para emiten yang ada di pasar modal untuk berinvestasi di sektor riil.

“Artinya pasar (Indonesia yang besar) inilah harus kita manfaatkan oleh investor yang ada di pasar modal, jangan selalu menjadi indikatornya adalah indeks (IHSG), karena indeks itu supply and demand, banyak orang banyak uang,” ungkap JK seperti dilansir dari Republika, Selasa (2/1).

Dia pun mengingatkan kepada para emiten agar jangan hanya fokus berinvestasi di pasar modal saja. Meskipun angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencatatkan kinerja baik. Diharapkan emiten dapat berinvestasi dengan memperluas usahanya di sektor riil. Karena, dengan berinvestasi di sektor riil maka dampaknya dapat langsung dirasakan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Bagaimana dana yang ada ini, yang triliunan ini masuk kembali ke sektor riil, bagaimana emiten itu berinvestasi memperluas usahanya (ke sektor riil) bukan hanya ritual bangga terhadap indeks, tapi masalah ekonomi Indonesia adalah investasi riil,” ucap JK.

Menurutnya, salah satu cara untuk menggairahkan investasi yakni dengan menurunkan suku bunga. Dalam hal ini, Bank Indonesia (BI) sudah mengatur penurunan suku bunga secara teratur. Menurut Jusuf Kalla, momen ini sebaiknya bisa dimanfaatkan oleh para emiten untuk memperluas investasi di sektor riil.

Di sisi lain, pemerintah telah menggenjot pembangunan infrastruktur dengan harapan dapat menggerakkan industri pendukungnya seperti semen dan baja, serta efisiensi logistik.

 

Jusuf Kalla berharap, pada 2018 ini semakin banyak perusahaan yang melantai di bursa. Diharapkan  para emiten nantinya tidak hanya ramai di perdagangan pasar modal saja, namun juga memiliki dampak kepada sektor riil. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebanyak 41,61 poin atau setara 0,66 persen ke posisi 6.355,65 pada penutupan Bursa Efek Indonesia pada akhir 2017.