Diskusi KLB Gizi Buruk di Asmat

Empat Faktor Penyebab KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat

[sc name="adsensepostbottom"]

Beberapa waktu yang lalu, belum lama ini telah terjadi KLB campak dan gizi buruk di Papua lebih tepatnya wilayah Asmat.

Ketua Umum PB IDI – Prof Dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG (K)  mengatakan  dalam acara “Diskusi Publik Pembelajaran dari Asmat” yang diselenggarakan pada 15 Mei 2018 di Sekretariat PB IDI Jl Samratulangi 29 Jakarta Pusat. “Acara hari ini pembelajaran dari asmat merupakan salah satu dari rangkaian Hari Bakti Dokter Indonesia 2018 yang akan diperingati pada tanggal 20 Mei setiap tahunnya. Dimana salah satunya yang PB IDI lakukan adalah kegiatan-kegiatan kemanusiaan sebagai wujud pengabdian para dokter Indonesia untuk beragam kasus kemanusiaan dan juga kesehatan terutama yang terjadi di Asmat saat ini.”

“Untuk itu, sinergi program antara organisasi profesi, NGO, Pemerintah, dan dukungan dari masyarakat terkait permasalahan gizi buruk di Papua ini mempunyai peran yang sangat penting.”Paparnya

“PB IDI dan NGO yang bergerak di bidang kesehatan terus berupaya melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan tanpa memandang sekat agama, suku, ras dan antar golongan untuk mewujdukana Indonesia yang lebih sehat dan damai.”Ujar Prof Marsis

Lanjut Prof Marsis menjelaskan “Kami di PB IDI menyadari, terwujudnya masyarakat Indonesia yang sehat, cerdas, produktif dan berdaya saing tinggi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun tanggungjawab kita bersama.”

Prof Marsis menyampaikan “KLB campak dan gizi buruk tersebut disebabkan kegagalan distribusi SDM kesehatan. Selain itu, sulitnya akses air bersih menjadi salah satu faktor terjadinya tragedi sebab masyarakat Asmat hanya mengandalkan air hujan untuk keperluan sehari-hari. Faktor lainnya pelayanan kesehatan yang tidak optimal.”

“Secara jujur kita ikut bertanggung jawab. Kekurangan gizi ialah suatu perubahan yang tidak terjadi secara akut, tetapi berlangsung lama. Pada saat itu kita fokus pada hal-hal yang bersifat pencitraan,” ujar Marsis. Jumlah korban meninggal dunia dalam kasus KLB campak dan gizi buruk di Asmat mencapai 76 anak.”Pungkasnya

Beliau menambahkan “Rendahnya cakupan imunisasi dan stunting (kurang gizi kronik) di Kabupaten Asmat juga potret belum optimalnya pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.”

“Kami berharap, diskusi pada hari ini tidak hanya dapat merangkum Permasalahan Asmat yang sudah ada namun tidak pernah dikemukakan, namun juga memberikan solusi yang akan disinergikan bersama di lapangan agar masyarakat di Asmat dan Papua dapat merasa memperoleh perhatian yang setara dari berbagai lembaga dan juga pemerintah.”Ujar Prof Marsis

Sementara itu pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Pengembangan SDM (PPSDM) Kesehatan Kementerian Kesehatan drg. Usman Sumantri, M.Sc., dalam persentasinya  memaparkan “Tata kelola sumber daya manusia (SDM) bidang kesehatan di daerah sangat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakatnya.Salah satu contoh pengelolaan SDM yang buruk antara lain di Kabupaten Asmat, Papua, yang mengakibatkan kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk.”

“Terdapat empat faktor penyebab terjadinya KLB campak dan gizi buruk di Asmat, yaitu faktor lingkungan (40 persen), faktor perilaku sosial budaya (30 persen), faktor pelayanan kesehatan (20 persen), dan faktor genetika (10 persen).” Ungkapnya

“Oleh karena itu, peristiwa yang terjadi pada awal tahun tersebut harus menjadi pelajaran bagi daerah lain dalam menata kelola SDM kesehatan.”Ujar Usman

Usman mengatakan “Meskipun terdapat biaya kesehatan, apabila tanpa pengelolaan yang baik, maka hasilnya tidak akan optimal.”

“Biaya kesehatan di Kabupaten Asmat memadai. Dana alokasi khusus (DAK) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Asmat untuk rujukan reguler pada 2017 mencapai Rp3,1 miliar dengan realisasi sebesar Rp2,5 miliar. Pada tahun ini, alokasinya naik menjadi Rp8,8 miliar.” Ungkap Usman dalam acara “Diskusi Publik Pembelajaran dari Asmat” yang diselenggarakan pada 15 Mei 2018 di Sekretariat PB IDI Jl Samratulangi 29 Jakarta Pusat.

Usman menambahkan,” Dari segi infrastruktur kesehatan, cukup karena di kabupaten ini telah terdapat satu RSUD dan 16 puskemas. Dari 16 puskesmas, 13 di antaranya berfungsi, sedangkan tiga lainnya belum teregistrasi.

“Akan tetapi fasilitas kesehatan yang tersedia itu masih kekurangan dalam tenaga dokter. Ia menyebutkan, untuk 13 puskesmas yang berfungsi, hanya terdapat 7 dokter, 164 perawat, dan tidak ada tenaga gizi. Padahal, masalah yang dihadapi di Asmat salah satunya ialah permasalah gizi.” Papar Usman.

drg. Usman mengungkapkan bahwa “Terdapat beberapa dokter yang seharusnya bertugas di RSUD absen atau tidak praktik. Ini menjadi catatan tersendiri untuk Kemenkes, dan diharapkan akan ada tindakan selanjutnya.”

“Tanpa tenaga kesehatan yang memadai, infrastuktur untuk kesehatan maka tidak dapat digunakan secara maksimal,” ungkapnya.

Usman menambahkan  “Masalah yang terjadi di Asmat tidak hanya terkait dengan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi masalah lain yaitu pemenuhan kebutuhan gizi terkait erat dengan ketahanan pangan disana.”

“Namun, kondisi geografis di Kabupaten Asmat tidak memungkinkan masyarakat menanam bahan pangan sehingga diperlukan peran Kementerian Pertanian.” ujarnya