Sinergi terpadu antar negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan seluruh pemangku kepentingan menjadi elemen penting dalam mengembangkan sektor wisata syariah. Tak hanya dalam pengembangan destinasi wisata baru, namun juga pada seluruh faktor pendukung sektor wisata.
Wakil Presiden RI, Boediono, mengatakan wisata berbasis syariah kini menjadi bagian penting dalam kecenderungan perkembangan sektor ekonomi Islam. Menurutnya, ekonomi islam saat ini menjadi paradigma ekonomi yang tidak terpisahkan dan penting dari ekonomi global. Signifikansinya pun dinilai akan meningkat di masa mendatang.

Boediono memaparkan saat ini ada tujuh sektor ekonomi islam yang mengalami peningkatan menonjol yaitu kuliner, keuangan islam, asuransi syariah, fashion, kosmetik, farmasi, hiburan dan pariwisata. “Dalam konteks ekonomi global industri pariwisata telah menjadi salah satu industri paling dinamis selain keuangan dan perbankan, otomotif dan lainnya,” kata Boediono dalam 1st Organization Islamic Conference (OIC) International Forum on Islamic Tourism di Hotel Borobudur, Senin (2/6).
Ia memaparkan setidaknya jumlah kedatangan wisatawan internasional diantara negara-negara OKI berjumlah 151,6 juta wisatawan muslim pada 2011, atau setara dengan 11,2 persen dari total kedatangan wisatawan seluruh dunia. Sektor ini menghasilkan 135,5 miliar dolar. Ke depan, lanjut Boediono, angka ini diperkirakan meningkat sejalan kemajuan ekonomi negara berpenduduk muslim. Hal ini didukung pula peningkatan populasi muslim yang mencapai 24 persen dari total populasi dunia pada 2013.
“Karena itu kita menyadari betapa penting potensi ini untuk dikembangkan sebaiknya oleh negara-negara OKI. Yang diperlukan adalah pengembangan konsep wisata syariah yang terpadu antar negara, tidak hanya fokus pada pengembangan destinasi wisata tapi juga seluruh faktor pendukungnya,” jelas Boediono.
Wapres menuturkan faktanya pariwsata dan kegiatan pendukungnya dapat memberi kontribusi signifikan pada pembangunan sosial ekonomi dan pengurangan kemiskinan di negara-negara OKI termasuk negara yang tidak dikaruniai sumber daya alam. Oleh karena itu, langkah untuk pengembangan wisata syariah yang perlu dilakukan diantaranya adalah pembangunan infrastruktur yang mendukung kegiatan wisatawan baik domestik dan internasional seperti bandara dan jaringan layanan pendukungnya, serta penerbitan standarisasi oleh menteri pariwisata.
Boediono tak menampik jika yang menjadi tantangan terbesar dalam pengembangan wisata syariah adalah sosialisasi, edukasi dan promosi ke masyarakat. “Karena itu kami berharap negara-negara OKI bisa bekerjasama di bidang ini dan perlu mencari peluang agar ada kerjasama lebih aktif dalam pengembangan wisata syariah. Kita perlu memanfaatkan arus wisatawan antar negara OKI dan lebih aktif mempromosikan wisata syariah dalam forum global,” pungkas Boediono.

