kpr bni syariah

Pembiayaan Rumah BNI Syariah Tumbuh 12 Persen

[sc name="adsensepostbottom"]

kpr bni syariahKebijakan Bank Indonesia tahun lalu mengenai larangan indent dan pembatasan uang muka masih turut mempengaruhi bisnis pembiayaan kepemilikan rumah di tahun ini. Tak terkecuali BNI Syariah. Bisnis tetap tumbuh, tapi tak sekencang tahun lalu.

Direktur Bisnis BNI Syariah, Imam Teguh Saptono, mengatakan pembiayaan kepemilikan rumah telah tumbuh 12 persen di tahun ini. “Sampai Mei 2014 pembiayaan  kepemilikan rumah mencapai Rp 5,6 triliun. Di akhir tahun ini targetnya mencapai Rp 5,9 triliun,” kata Imam.

Ia mengakui pembiayaan kepemilikan rumah di tahun ini tak sekencang tahun-tahun sebelumnya karena aturan larangan indent dan kebijakan uang muka dari Bank Indonesia. Dampak dari kebijakan itu pun memotong hampir separuh pembiayaan kepemilikan rumah BNI Syariah tahun lalu.

Untuk pembiayaan kepemilikan rumah ini, BNI Syariah telah bekerjasama pula dengan sejumlah pengembang perumahan. “Kami bekerjasama dengan pengembang menengah ke bawah yang lahannya kurang dari tiga hektar, karena kalau pengembang yang besar biasanya kan juga sudah kerjasama dengan bank besar,” tukas Imam. Plafon pembiayaan kepemilikan rumah BNI Syariah antara Rp 150 juta sampai Rp 5 miliar.

Di sisi lain, Imam pun menjelaskan bahwa kini pihaknya mulai mengembangkan produk pembiayaan kepemilikan rumah dengan akad musyarakah mutanaqisah. Dalam 1-2 bulan terakhir BNI Syariah telah melakukan piloting produk di Depok. “Ini masih kita review karena masih kurang dari 50 nasabah dan butuh dukungan teknologi informasi, tapi untuk akad dan produknya sudah siap. Musyarakah mutanaqisah ini kan juga perlu edukasi,” jelas Imam.

Sementara, untuk menangkap pasar indent, Imam memaparkan pihaknya menjalin syirkah dengan pengembang perumahan. “Jadi untuk pembiayaan konstruksi join dengan pengembang, misalnya membuat rumah contoh. Sekarang juga belum banyak karena ingin tahu dulu risikonya,” imbuh Imam.

Di tahun ini BNI Syariah membidik pertumbuhan bisnis 30 persen, dengan target aset Rp 19 triliun, pembiayaan Rp 14,5 triliun, dana pihak ketiga Rp 16,8 triliun dan laba Rp 130 miliar. Sampai Mei 2014, BNI Syariah mencatat aset sebesar Rp 16,8 triliun, dana pihak ketiga Rp 14,6 triliun, pembiayaan Rp 12,9 triliun, dan laba bersih Rp 54,4 miliar.