Neraca perdagangan Indonesia surplus

Neraca Perdagangan Indonesia Alami Surplus

[sc name="adsensepostbottom"]

Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2014 mengalami surplus 0,07 miliar dolar AS setelah pada bulan sebelumnya mencatat defisit sebesar 1,96 miliar dolar AS.

Neraca perdagangan Indonesia surplus
Neraca perdagangan Indonesia surplus

Publikasi Badan Pusat Statistik memaparkan kinerja neraca perdagangan tersebut dipengaruhi oleh neraca perdagangan nonmigas Mei 2014 yang berbalik dari defisit menjadi surplus, meskipun neraca perdagangan migas mencatat defisit yang meningkat dibandingkan kondisi April 2014.

Dalam siaran pers Bank Indonesia, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus sebesar 1,40 miliar dolar AS dibandingkan dengan defisit 0,92 miliar dolar AS pada April 2014. Ini dipengaruhi oleh ekspor nonmigas yang meningkat 6,95 persen (month-to-month/mtm), sementara impor nonmigas terkontraksi 12,05 persen (mtm). Peningkatan ekspor nonmigas terutama terjadi pada komoditas utama lemak dan minyak hewan/nabati.

Selain itu, ekspor batubara dan ekspor produk manufaktur berupa berbagai produk kimia, alas kaki, dan kertas/karton juga mengalami peningkatan. Menurut negara tujuan, peningkatan ekspor nonmigas Mei 2014 terutama didukung oleh kenaikan ekspor ke Tiongkok, India, dan Uni Eropa. Sementara itu, kontraksi impor nonmigas dipengaruhi oleh penurunan impor pada 8 dari 10 golongan barang utama seperti mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, serta besi dan baja.

Perbaikan kinerja neraca perdagangan Mei 2014 tertahan oleh peningkatan defisit neraca perdagangan migas yang naik menjadi 1,33 miliar dolar AS dari 1,04 miliar dolar AS di bulan April 2014. Meningkatnya defisit neraca perdagangan migas tersebut dipengaruhi oleh kontraksi ekspor migas sebesar 10,40 persen (mtm) akibat turunnya ekspor gas dan hasil minyak, sementara impor migas justru tercatat meningkat 0,38 persen (mtm) akibat bertambahnya impor minyak mentah.

Menyikapi neraca perdagangan di bulan Mei 2014 ini, Bank Indonesia menyatakan akan terus mencermati risiko global dan domestik yang dapat mempengaruhi prospek defisit transaksi berjalan dan ketahanan eksternal. Sebelumnya, Bank Indonesia telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga (BI rate) sebesar 7,5 persen. Kebijakan itu dinilai masih konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014 dan 4±1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.