Perbankan syariah Indonesia mengalami tantangan dalam penghimpunan dana di tahun ini. Memasuki 2014, dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah Indonesia tercatat menurun dari akhir 2013. Sampai dengan Mei 2014, DPK yang terhimpun pun tak berbeda jauh dengan akhir tahun lalu.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Bank Syariah Seluruh Indonesia Jabodetabek, Cahyo Kartiko, mengakui saat ini bank syariah sedang mengalami kekeringan likuiditas. “Dana yang biasa digunakan untuk pembiayaan mulai berkurang,” katanya.

Menurut Analis Bank Senior Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan, Moh Syukri A Yunus, kini masyarakat mulai lebih aware terhadap produk keuangan selain perbankan. “Jadi sekarang menempatkan dananya tidak semata-mata di bank karena banyak yang sudah mengenal produk non bank seperti saham di pasar modal maupun asuransi,” ujar Syukri.
Oleh karena itu, upaya sosialisasi dan edukasi mengenai produk perbankan syariah pun terus dilakukan agar masyarakat dapat mengetahui keunggulan dari bank syariah. Syukri mengatakan kerjasama dalam menyosialisasikan perbankan syariah membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. “Dengan berbagai keterbatasan yang kita miliki sebagai infant industry maka perlu kerjasama yang erat agar dapat secara bersama-sama bersinergi menarik minat masyarakat untuk menggunakan perbankan syariah,” jelas Syukri.
Salah satu program sosialisasi dan edukasi yang diusung adalah iB Vaganza, yaitu pameran perbankan syariah yang digelar sepanjang tahun di sejumlah kota di Indonesia. iB Vaganza dilaksanakan setiap bulan di kota-kota yang berbeda. Acara yang telah digelar sejak 2012 itu kini hadir di Bekasi hingga 17 Agustus 2014. Sebelumnya di tahun ini sudah ada enam kota yang dikunjungi, yaitu Bandung, Yogyakarta, Bandar Lampung, Tangerang, Batam, dan Depok. Selanjutnya iB Vaganza hadir di Pekanbaru (September), Mataram (Oktober), Malang (November), Bogor dan Jakarta (Desember). Dari pelaksanaan iB Vaganza di enam kota telah terhimpun dana sebesar Rp 351,3 miliar.

