Kemerdekaan Ekonomi & Investasi – Sebuah Keniscayaan

[sc name="adsensepostbottom"]

pakar ekonomi syariahOleh: M Gunawan Yasni – Anggota Dewan Syariah Nasional MUI

Peristiwa September Hitam beberapa tahun yang lewat ditambah dengan krisis perang yang terus menerus di Timur Tengah dan sekitarnya, telah membuat para investor Timur Tengah berpikir beberapa kali untuk tetap berinvestasi di Amerika, Inggris dan Eropa. Arogansi Amerika dan sekutunya telah membentuk suatu pola ekonomi, keuangan & investasi dunia yang arahnya berbeda dari ekonomi, keuangan & investasi konvensional yang cenderung virtual semata.

Tanpa bermaksud mengecilkan upaya Amerika dan sekutunya untuk menentramkan dunia dengan caranya, Amerika telah membesarkan apa yang dicurigainya tanpa alasan sebagai sesuatu yang telah dan akan terus melukainya. Sama seperti ketika Amerika menghabiskan dana sangat besar untuk mengunjungi dan menyelidiki bulan, mereka mendapati secara pasti batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Dan setelah diteliti pakar geologinya, dikatakan bahwa hal ini tidak mungkin terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali.

Ini membuktikan kebenaran kisah Rasulullah SAW membelah bulan di masa sebelum hijrah dari Mekah Al-Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau Engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu?” Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab: “Coba belahlah bulan …” Maka Rasulullah SAW pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah SWT agar menolongnya.

Maka Allah SWT memberitahu Muhammad SAW agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan  telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulan itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!”. Sebagian dari mereka bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan.

Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”. Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…!!!” Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:

“Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu  mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap …..” sampai akhir surat  Al-Qamar.

ekonomiKemerdekaan Mengembangkan Kemandirian

Kenyataan berikutnya yang masih terjadi adalah para investor kaya dari Timur Tengah mencari lahan investasi baru di negara-negara yang mengakomodasi berkembangnya keuangan Islam dan perlahan-lahan meninggalkan Amerika serta Inggris sebagai lahan investasi mereka sebelumnya. Meski demikian, perpindahan para investor Timur Tengah dari Amerika, Inggris dan Eropa, tetap dengan cara yang santun melalui para pengelolanya yang juga mempunyai kantor di banyak negara di dunia. Para pengelola investasi tersebut rata-rata sangat berpengaruh di empat benua: Amerika, Eropa, Asia dan Australia. Mereka biasanya berpartner dengan pengelola investasi lokal di negara-negara yang banyak melakukan jual beli asset negara atau pihak swastanya.

Perubahan ekonomi dan keuangan dunia akan mempunyai implikasi yang paling mendasar dan sangat mendukung Islam yaitu dengan tidak berlakunya lagi instrumen-instrumen keuangan / investasi virtual yang sarat riba serta digantikan oleh penguasaan asset-asset riil dalam transaksi keuangan / investasi.

Dengan demikian pembangunan ekonomi dunia ke depan setelah dimulainya perang besar akan lebih – sengaja atau tidak sengaja – mengedepankan nilai-nilai Islam yang memang diperuntukkan untuk membawa rahmat ke pada seluruh alam, tidak hanya terbatas kepada komunitas Islam. Petikan Surah Ash-Shaaf (61) ayat 8 cukup tepat menggambarkan apa yang terjadi pasca perang besar yang kesan awalnya justru merupakan musibah bagi orang-orang Muslim:

”MEREKA INGIN HENDAK MEMADAMKAN CAHAYA ( AGAMA ) ALLAH DENGAN MULUT ( UCAPAN – UCAPAN ) MEREKA , DAN ALLAH TETAP MENYEMPURNAKAN CAHAYANYA MESKIPUN ORANG – ORANG KAFIR BENCI.”

Dalam mengantisipasi proses perpindahan investasi para investor Timur Tengah ke negara-negara yang lebih mempunyai kaitan spiritual dan bisnis yang baik dengan mereka, sewajarnyalah kita mulai membiasakan diri dengan proses perpindahan investasi tersebut. Masyarakat ekonomi atau keuangan syariah harus lebih banyak mengakomodasi kepentingan-kepentingan para investor baru ini dengan membakukan peraturan, kelembagaan keuangan, serta investasi syariah yang lebih bisa menjamin kepentingan investor syariah. Tentu saja peraturan keuangan dan investasi ini harus dilegitimasi oleh pemerintah, disosialisasikan, dan diawasi secara independen oleh segenap komponen masyarakat ekonomi dan keuangan syariah.

Sesungguhnya dengan mendukung kemerdekaan ekonomi melalui penerapan ekonomi syariah, pemerintah Indonesia telah berupaya menjadikan dirinya sebagai “Good Government” (Pemerintah yang baik) sebagaimana yang Confucius katakan, “ There is good government when those who are near are happy, and when those who are far away desire to come” (pemerintah yang baik adalah ketika orang-orang yang bernaung dekatnya merasa senang dan ketika orang-orang yang jauh menginginkan untuk datang mendekat).

Indonesia memerlukan kemerdekaan dalam memilih pendanaan pembangunannya yang selama ini banyak berbasiskan hutang konvensional dari negara-negara barat. Kemerdekaan ekonomi yang hakiki adalah pada saat mempunyai banyak pilihan untuk berkontrak dan bertransaksi sesuai dengan tuntunan Allah – God of Universe (Tuhan Semesta Alam) dengan saling ridha antar para pihak.

Ekonomi Demokrasi

Ada satu frase dalam English Bible tentang keberadaan kejahatan: “in the absence of light darkness comes – kegelapan datang seiring dengan ketiadaan cahaya”. Kejahatan ekonomi yang sering terjadi diakibatkan kurangnya cahaya fikrah/ pemikiran & fitrah/ kesucian pelaku ekonominya. Dan ekonomi syariah adalah jawaban yang membawa kepada pencerahan pemikiran dan kesucian.

Ian Shapiro – Sterling Professor of Political Science pada Yale University, Amerika Serikat – dalam bukunya The Moral Foundations of Politics atau Azas Moral Politik, secara tajam menyoroti bahwa penolakan terhadap proyek pencerahan (enlightenment) – yang hendak menata kehidupan sosial dan ekonomi secara ilmiah dan mempertahankan kebebasan manusia berdasarkan hak individu – tidaklah layak. Tradisi-tradisi utilitarian, Marxis, dan kontrak sosial lainnya telah gagal sebagai doktrin politik yang komprehensif mempengaruhi ekonomi. Sementara kaum anti pencerahan (beberapa diantaranya adalah postmodernis dan komunitarian) hanya mampu menelanjangi gagasan pencerahan tahap dini.

Namun Ian juga tidak terlalu yakin dengan demokrasi gaya barat yang menurutnya adalah sebuah sistem di mana mereka yang dirugikan punya insentif dan sumber daya untuk menunjukkan kekurangan dari sistem itu, dan berusaha mengubah pengaturan yang merugikan mereka. Dia juga mengatakan, dalam sebuah dunia di mana mereka yang bersaing untuk mendapatkan kekuasaan harus merujuk pada sisi-sisi manusiawi untuk mengetahui dan bertindak atas dasar kebenaran, akan selalu ada orang yang berusaha membengkokkan kebenaran demi tujuan mereka sendiri, dan karenanya mengambil keuntungan dari pihak lain.

Francis Fukuyama dalam The Great Disruption: Human Nature & the Reconstitution of Social Order/ Guncangan Besar: Kodrat Manusia & Tata Sosial Baru membahas bagaimana guncangan besar terjadi ketika sistem kapitalisme merajalela dan mengakibatkan penipisan modal sosial. Kepercayaan manusia pada manusia lainnya habis sebagaimana kecurigaan dan kebohongan merebak serta pelanggaran hukum dan norma meningkat. Proses kerjasama dalam masyarakat (homo homini socius) berubah menjadi proses saling memakan dan merugikan (homo homini lupus). Francis menyatakan bahwa setelah guncangan kapitalisme itu akan ada lagi proses penataan kembali masyarakat walaupun dia tak menyatakan secara drastis penataan seperti apa yang akan terjadi.

Dari pendapat-pendapat para penulis buku tersebut, menjadi jelaslah bahwa persaingan untuk mendapatkan kekuasaan secara demokratis yang biasanya dilandasi motif kapitalisme ekonomi dan kemudian mempengaruhi ekonomi itu sendiri secara konvensional, hanyalah merupakan obat bagi penyakit kronis dalam proses pencerahan ekonomi dan bukan penyembuhan ekonomi itu sendiri. Dari sisi ekonomi, titik mula penyembuhan itu sebaiknya dimulai dengan fikrah & fitrah ekonomi dengan menitik beratkan kepada prinsip honesty, trustworthy, communicabilty dan capability atau dalam bahasa syariah adalah shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah menuju sebuah kondisi ekonomi negara yang baldatun thoyyibayun wa robbun ghoffur. Atau dalam bahasa yang lebih mudah adalah sincerety towards prosperity, ketulusan menuju kemakmuran.