Peserta Program Pensiun di Indonesia Terendah di Asia

[sc name="adsensepostbottom"]

Masa pensiun terkadang tak melintas di benak masyarakat usia produktif. Padahal, persiapan masa pensiun sangat diperlukan agar bisa memperoleh kebebasan dan kenyamanan di masa tua.

PENSIONIronisnya di Indonesia hanya 22 persen investor yang mengikuti program pensiun yang diwajibkan pemerintah. Angka ini merupakan yang terendah di Asia, jauh di bawah angka rata-rata di Asia yang sebesar 67 persen.

Chief of Employee Benefits Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Nur Hasan Kurniawan, mengatakan sayangnya kondisi tersebut pun tidak membuat masyarakat Indonesia tertarik untuk membeli program pensiun tambahan sebagai alternatif. Hanya 15 persen orang Indonesia memiliki program pensiun dari institusi swasta untuk memenuhi target dana pensiun. “Ada kekuatiran bahwa ekspektasi mereka tidak sesuai dengan yang diharapkan, terlebih lagi hanya sedikit investor yang mengikuti program pensiun yang diwajibkan pemerintah atau yang berupaya untuk memperkecil kesenjangan tersebut dengan membeli program pensiun dari institusi swasta,” kata Hasan dalam pemaparan Manulife Investor Sentimen Index (MISI) kuartal II 2014, Kamis (25/9).

Ia menambahkan program pensiun di Indonesia sama dengan program pensiun di Hong Kong dan Amerika Serikat. “Yang berbeda adalah kontribusinya di Indonesia 2-6 persen, sementara kita ambil contoh yang terdekat di Singapura saja karyawannya diwajibkan menyisihkan 20 persen dari gaji, sementara dari employer 16 persen,” kata Hasan.

Dari hasil MISI setidaknya 97 persen responden yakin punya penghasilan pensiun dari berbagai sumber yang bernilai setara dengan 84 persen penghasilan mereka saat ini. Sayangnya optimisme ini tidak didukung aksi nyata. Faktanya hanya 43 persen masyarakat sudah menyiapkan masa pensiunnya dan 34 persen uang mereka disimpan dalam bentuk tabungan dan deposito yang memberikan imbal hasil kecil.

Hasan memaparkan jika ditilik lebih lanjut, optimisme investor Indonesia pun tidak punya dasar yang kuat. Investor berharap sekitar 26 persen dana pensiun berasal dari tabungan, dan 18 persen berasal dari penghasilan pasca pensiun, atau itu berarti mereka masih akan bekerja di masa pensiun. Padahal, ketersediaan sumber dana tersebut dipengaruhi banyak faktor. Misalnya, tabungan yang sudah direncanakan bisa jadi tidak bisa menaklukkan laju imflasi. Sementara, jika masih mencari kerja di usia tua bukanlah hal mudah karena pertimbangan kesehatan dan kondisi industri yang sudah berubah. “Masyarakat sepertinya terlalu mengandalkan sumber-sumber pendanaan yang tak pasti untuk membiayai hidup mereka di hari tua,” ujar Hasan.

Di sisi lain, berdasar hasil MISI pengeluaran investor di masa pensiun sebagian besar menyatakan untuk keperluan rumah, sisanya masih memberikan dukungan finansial untuk anak, dan menyicil mobil. “Ini berarti belum ada financial freedom di masa pensiun,” tukas Hasan.