Benih merupakan hal pokok dalam pertanian. Dalam sistem budidaya tanaman, benih menempati porsi penting sebagai penentu produksi. Maka tak heran bicara kedaulatan pangan tidak bisa lepas dari kedaulatan benih.

Di Kasepuhan Adat Sinar Resmi tersebut, kata Ahmad, Dompet Dhuafa berupaya memberdayakan kembali benih-benih lokal melalui komunitas penggiat bank benih. Komunitas tersebut hingga saat ini telah memiliki koleksi lebih dari 60 jenis benih padi lokal. “Upaya pemberdayaan tersebut juga merupakan dukungan dalam menguatkan kearifan lokal adat demi mewujudkan kemandirian pangan komunitas melalui penanaman benih padi lokal,” ujar Ahmad.
Secara garis besar, aktivitas dalam program Bank Benih adalah penyediaan lahan penanaman benih satu hektar, pengumpulan jenis benih yang tersebar di masyarakat lokal, penaman benih lokal sebanyak 60 jenis, pembangunan bank benih, pembangunan saung pembelajaran petani, penguatan kapasitas, dan pendampingan intensif.
Sementara, Ahli pertanian Dwi Andreas Santosa menuturkan, berbicara mengenai pertanian adalah berbicara mengenai bagaimana agar para petani sejahtera. Selama ini, petani kecil selalu harus mendapatkan kondisi yang tidak berpihak terhadap mereka. Adanya impor seperti beras menjadi salah satu contoh. “Padahal, jika orientasi pembangunan untuk mensejahterakan petani, maka hasil maksimal mengenai kedaulatan pangan bisa terwujud. Libatkan petani,” ujar Andreas.
Di akhir dialog nasional tersebut, dibacakan pula Manifesto Kedaulatan Pangan. Dalam manifesto tersebut, para narasumber dan peserta dialog berpandangan bahwa hilangnya kedaulatan petani atas benih dan pangan hanya bisa dikembalikan sendiri oleh petani bersama negara demi terwujudnya kedaulatan rakyat dan keberlanjutan kehidupan.

