Ketua Umum MUI Din Syamsudin, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Wakil MPR Hidayat Nur Wahid pada perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah di GBK, Jakarta, Minggu (26/10). foto: MUI

Tahun Baru Islam, Hijrah Mental Bangsa Indonesia

[sc name="adsensepostbottom"]

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah merupakan momentum penting untuk hijrah mental bagi bangsa Indonesia yang I’tidal.

 

Ketua Umum MUI Din Syamsudin, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Wakil MPR Hidayat Nur Wahid pada perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah di GBK, Jakarta, Minggu (26/10). foto: MUI
Ketua Umum MUI Din Syamsudin, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Wakil MPR Hidayat Nur Wahid pada perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah di GBK, Jakarta, Minggu (26/10). foto: MUI

Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri Perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah di stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Minggu pagi (26/10).

Kegiatan yang digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini dihadiri oleh ribuan umat Islam se-Jabodetabek. Selain JK, sejumlah petinggi negara turut hadir diantaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Dalam sambutannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, peringatan tahun baru Islam ini agar menjadi momentum untuk perubahan kearah lebih baik. “Jika mau perubahan harus bergerak. Itulah inti dari sekian peringatan 1 Muharram yaitu simbol perubahan . Untuk itulah, marilah gerakkan umat untuk bekerja lebih baik,” kata JK.

Ketua Umum MUI Din Syamsudin mengatakan, selama ini masyarakat lebih sering merayakan tahun baru Masehi yang jatuh pada 1 Januari, padahal Indonesia merupakan salah satu negara Islam terbesar di dunia. “Mudah-mudahan pada tahun mendatang, kita bisa merayakan acara ini lebih meriah dan semarak,” kata Din, di sela perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah di GBK, Minggu (26/10).

Menurut Din, perayaan Tahun Baru Islam yang pertama kali diadakan MUI ini merupakan momentum untuk hijrah mental bagi bangsa Indonesia. “Momentum hijrah mental bagi Indonesia yang I’tidal. I’tidal dalam salat harus tegak lurus, demikian juga pemerintahan bangsa ini harus lurus di jalan yang benar untuk kemakmuran umat,” tegasnya.

Semantara Ustadzah Mamah Dedeh mengatakan, Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah ini harus diperingati. Hal ini sangat penting karena memperingati hijrah Nabi Muhammad SAW, diman makna hijrah, artinya ada tiga. Petama hijrah itu meninggalkan perbuatan yang buruk, kedua hijrah itu meninggalkan pergaulan dan ketiga adalah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Lebih lanjut Mamah Dedeh menuturkan, masyarakat lebih mementingkan perayaan tahun baru Masehi dengan pesta yang meriah, ketimbang Tahun Baru Islam yang seharusnya dirayakan dengan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. “Di negara Indonesia, kalau giliran menyambut tahun baru masehi pesta pora. Sebaliknya giliran menyambut tahun baru Islam tidak ada perayaan meriah. Ini karena tatatan agamanya kurang,” katanya saat dihubungi MySharing, Senin (27/10).

Mamah Dedeh menyesalkan mengapa banyak umat Islam tidak tahu Tahun Hijriah. Hal ini dikarenakan momen penting yang kerap dijalankan umat Islam seperti kelahiran anak, aqiqah, dan sunat menggunakan tanggal Masehi, bukan tanggal Hijriah. “Saya himbau, ketika masuk tahun baru Hijriah, umat Islam wajib bermuhasabah, budaya perayaan Tahun Baru Islam ini jangan ditinggalkan,” tegasnya.

 

.