Presiden Joko Widodo saat blusukan meninjau kali di Jakarta.

Potret Blusukan Jokowi di Mata MUI

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai blusukannya Jokowi tidak ikhlas demi rakyat, hanya pencitraan politik.

Presiden Joko Widodo saat blusukan meninjau kali di Jakarta.
Presiden Joko Widodo saat blusukan meninjau kali di Jakarta.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah tokoh yang gemar blusukan. Sehingga wajar kalau label ‘merakyat’ melekat padanya. Namun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai aksi blusukan Jokowi bukan iklas demi rakyat, melainkan hanya pecitraan politik.

Jokowi, ketika menjabat gubernur DKI Jakarta pun kerap blusukan menyisiri pasar-pasar, pemukiman penduduk dan rumah sakit. Begitu pun setelah bertengger menjadi orang nomor satu di republik ini. Dia blusukan hingga kepolosok memantau kondisi rakyat di negeri makmur ini

Ketua Bidang Kebudayaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Cholil Ridwan mengatakan, yang patut dicermati apakah blusukan yang dilakukan oleh Jokowi adalah sebuah keseriusan atau pencitraan politik semata.”Kalau blusukan beliau selama ini iklas demi kepentingan rakyat. Itu sangat Islami,” kata Cholil kepada MySharing, saat ditemui di kantor MUI Pusat Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, jika blusukan yang dilakukan Jokowi adalah dalam rangka perwujudan kepedulian kepada rakyatnya. Tentu berbanding lurus dengan langkah kebijakan yang diambil Jokowi dalam kerangka menyejahterakan rakyatnya.”Namun coba tenggok, kebijakan dia menaikan harga BBM. Ini kenyataan pahit bagi rakyat Indonesia,” tukas Cholil. Baca juga: Harga BBM Dongkrak Inflasi Hingga 7,5%

Padahal, lanjutnya, kalangan mahasiswa dan masyarakat demo menyuarakan penolakan, namun seolah  Jokowi tidak ambil pusing dengan seruan itu. Malah ia mengatakan gejolak dan protes masyarakat akibat kenaikan BBM tidak akan berlangsung lama.”Jokowi bilang nanti akan reda dengan sendirinya. Ini sangat jelas bukti pengabaian penguasa terhadap rakyatnya,” kata Pendiri Politik Islam (PPI).

Menurutnya, blusukan yang seharusnya identik dengan kepedulian terhadap rakyat, tidak sebanding dengan kenyataan yang dihadapi rakyat. Kenaikan BBM justru telah melumpuhkan kesejahteraan rakyat. Karena seiring naiknya BBM, harga kebutuhan pokok pun dan biaya transportasi turut andil membuat hati rakyat menjerit. Jadi sangat jelas blusukan Jokowi hanya pencitraan politik yang tidak membawa dampak perbaikan kehidupan rakyat.[su_pullquote align=”right”]”Jokowi bilang nanti akan reda dengan sendirinya. Ini sangat jelas bukti pengabaian penguasa terhadap rakyatnya”[/su_pullquote]

Padahal, kata Cholil, wong cilik itu adalah penduduk Indonesia. Penduduk yang juga banyak di antaranya anggota dan simpatisan Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hingga akhirnya menghantarkan Jokowi duduk di singgasana Republik ini. Namun kenyataan telah diukir, BBM dinaikkan bukan untuk kepentingan rakyat. Menuruh hemat Cholil, itu untuk pengusaha bensin asing, yang selama ini merasa pertamax sepi pembeli. Namun setelah BBM subsidi dinaikkan, silisih harga pertamax cuma seribu rupiah.

PT Pertamina (Persero) telah menurunkan harga pertamax di luar Jabodetabek sebesar Rp 300 perliter, yang diberlakukan pada Sabtu (13/12). Di Jakarta, harga pertamax turun sudah sejak 24 November. Kini harga pertamax menjadi Rp 9.950 perliter dari harga sebelumnya Rp. 10.500 perliter. Begitu pula dengan PT Shell Indonesia, yang menjadi pesaing Pertamina di industri hilir migas di Indonesia. Perusahaan raksasa energi Amerika Serikat ini sudah merevisi harga sejak 22 November. Di Jabodetabek, shell super (bersaing langsung dengan pertamax) turun Rp 250 menjadi Rp 9.950 per liter. Produk V power turun Rp 250 menjadi Rp 11.450 dan diesel turun Rp 250 menjadi Rp 11.550

Cholil menuturkan, kenaikan harga BBM bersubdisi jenis premium ini, ternyata diikuti oleh penurunan harga BBM nonsubsidi.”Jangan-jangan ini ada unsur politik, terbukti pertamax sekarang ramai pembeli,” kata Cholil curiga