Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai insiden Charlei Hebdo di Prancis dipakai kelompok tertentu untuk menyudutkan Islam di mata international.

Lebih jauh ia menyampaikan, kini jumah umat Islam di Prancis mencapai 8 juta orang yang resmi terdaftar. Namun demikian, kata Muhyiddin, jumlahnya bisa melebihi, dikarenakan gelombang imigrasi Muslim dari negara Afrika Utara dan Timur Tengah terus berdatangan ke Prancis. Sedangkan jumlah masjidnya mencapai 2000-an, belum lagi musholanya. “Muslim terbesar di eropa adalah di Prancis, disusul Inggris dan negara eropa lainnya,” kata Muhyiddin.
Ia mengatakan, Muslim di Prancis juga mengalami berbagai macam tekanan anti Muslim. Beberapa masjid tersebut sudah dilempari bom molotov. Tapi umat Islam diminta untuk tidak membalas tetap bersikap adil dan dewasa. Apalagi setelah tahun 2000-an, banyak sekali umat Muslim yang sudah memberikan kontribusi riil kepada Prancis dan negara eropa lainnya.
- Masjid Al-Ikhlas PIK Dibuka, Usung Islamic Classical Architecture Padukan Keindahan, Kesederhanaan dan Kekhusyukan
- CIMB Niaga Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Pelajar di 2026
- “D-8 Halal Expo Indonesia 2026”, Tegaskan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Ekonomi Halal
- BSI Catat Penjualan Emas Tembus 2 Ton, Nasabah Nikmati Kenaikan Harga
Kontribusi besar umat Islam ini, lanjutnya, bisa dimungkinkan mengundang kekhawatiran “Islam Berjaya” di negara-negara eropa. Yang pada akhirnya memicu gelombang antimigran Muslim, seperti yang telah terjadi di Swedia, Bulgaria dan Jerman. Jadi mungkin saja ada kelompok tertentu yang iri dengan kemajuan Muslim di eropa. Sehingga mereka melakukan konsfirasi untuk merusak nama Islam. Seperti penyerangan sadis terhadap 12 orang di kantor majalah satir, Charlie Hebdo di Prancis.
Dan sekalipun dua orang tersangka yaitu Chief Kouachi (32) dan saudaranya, Said Kouachi (34) telah dipastikan tewas setelah persembunyiannya disergap polisi. Dan Hamyd Mourad (18) menyerahkan diri kepada polisi Paris. ”Tapi tindakan pembunuhan itu tidak dibenarkan dalam Islam. Justru insiden ini mencoreng nama Islam dan umat Islam di dunia,” ujar Muhyiddin.
Muhyiddin mengkhawatirkan kasus ini akan menimbulkan reaksi dari kelompok tertentu yang pada akhirnya memberikan vonis buruk menyudutkan Islam. Bukan tidak mungkin, kelompok ini akan berkata, kenapa Islam harus diterima di eropa?. “Menurut mereka, akar budaya eropa itu bukan Islam, tapi adalah Yahudi dan Kristen. Maka tidak ada ruang untuk Islam berada di wilayah eropa. Padahal mereka lupa, abad pertengahan Islam berada di eropa selama 7 abab,” katanya.
Menurutnya, insiden Charlie Hebdo bisa menjadi alasan bagi eropa untuk menyerang umat Islam, dipakailah kelompok tertentu. Inilah yang dikhawatirkan oleh MUI, jangan-jangan insiden ini dipakai oleh kelompok tertentu untuk merusak citra Islam di mata international. “Orang yang bisa bahasa Prancis, bisa mengucapkan Allahu Akbar dipakai oleh kelompok tertentu. Kamu lakukan ini, saya bayar sekian,” imbuhnya.

