Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyesalkan terhadap majalah satire Charlie Hebdo kembali menerbitkan kartun Nabi Muhammad di esisi terbarunya, pada Rabu (14/1).

Lukman menuturkan, kasus penembakan terhadap sejumlah wartawan di Prancis, seharusnya menjadi pelajaran semua pihak. “Reaksi Reaksi emonosional dengan menggalang kekuatan dengan cara membuat karikatur sebagai bentuk dukungan dan wujud simpati atas tewasnya insan media justru bisa menimbulkan reaksi yang lebih keras,” kata Lukman, dalam rilis yang diterima MySharing, Kamis (15/1).
Karikatur itu menggambarkan Nabi Muhammad SAW sedang menangis sambil memegang poster berbunyi “Je susi Charlie” atau Saya adalah Muhammad” di bawah tulisan “Touut est pardonne” atau “Semua dimaafkan”.
“Kebebasan pers seharusnya dilakukan dengan tetap menghormati keyakinan umat beragama, termasuk umat Muslim yang tidak boleh menggambarkan wujud fisik Nabi Muhammad SAW,” kata Lukman. (15/1).
- BPKH dan Bank Muamalat Jaga Silaturahmi dengan Jurnalis Medan
- BCA Syariah Catat Pertumbuhan Aset 17,2% YoY, Perkuat Dampak via Inisiatif Sahabat Berkahmu
- Bank Muamalat Gelar Silaturahmi dan Diskusi bersama Para Jurnalis Medan
- Sinergi BPKH dan Bank Muamalat Perluas Akses Layanan Haji Berbasis Digital
Menag menghimbau semua pihak, khususnya umat Muslim, bahwa sebesar apapun kekecewaan dan amarah kita atas penghinaan seseorang terhadap keyakinan kita. Tidak lantas memperbolehkan kita untuk main hakim sendiri dengan tindak kekerasan, apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain.
“Rasulullah SAW mencontohkan saat dihina dan dilecehkan orang kafir, beliau justru mendoakan orang yang menghinanya itu. Bukan membalas dengan kekerasan, apalagi membunuhnya,” ujar Lukman.
Menurutnya, semua permasalahan seharusnya dapat diselesaikan melalui jalur hukum di pengadilan. Itulah cara beradab. Bukan dengan main hakim sendiri. Kemenag juga mengimbau kepada umat Muslim di Indonesia agar tidak terprovokasi atas aksi simpati ini. “Muslimin Indonesia harus tunjukkan bahwa esensi ajaran Islam adalah memanusiakan manusia, bukan justru menistanya,” tegas Lukman.

