Usai memperoleh dana senilai 200 juta dolar AS di awal tahun ini, Danamon Syariah membidik sektor pangan dan agrikultur sebagai salah satu target pembiayaan.

Direktur Danamon Syariah, Herry Hykmanto, mengatakan dana yang berasal dari ITFC terutama akan disalurkan ke sektor yang memberi manfaat bagi banyak orang. “Targetnya ke sektor pangan dan agrikultur, atau energi kelistrikan. Selain itu, bisa juga nanti untuk sektor lain sepanjang sifatnya produktif untuk menunjang ekspor,” ungkap Herry, dalam penandatanganan kerjasama Danamon Syariah dan ITFC, Kamis (22/1).
Selama ini, lanjutnya, Danamon Syariah menyalurkan pembiayaan perdagangan ke sektor manufaktur, perdagangan ekspor impor seperti crude palm oil, mineral dan agrikultur. Oleh karena itu, dengan tambahan dana dari ITFC akan memungkinkan pihaknya meningkatkan pembiayaan perdagangan syariah ke sektor lainnya.
Herry memaparkan pembiayaan perdagangan Danamon Syariah saat ini masih sekitar seperlima dari total pembiayaan perdagangan Bank Danamon. Dengan dana ITFC, maka pembiayaan perdagangan syariah Danamon akan dapat mencapai sedikitnya Rp 2 triliun di tahun ini. Pada 2015 Danamon Syariah menargetkan pertumbuhan bisnis secara umum mencapai 35 persen. Tahun 2014 aset Danamon Syariah di kisaran Rp 3-4 triliun dan pembiayaan tumbuh sekitar 30 persen.
Di sisi lain, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK, Mulya E Siregar, pun mengimbau area pembiayaan perdagangan agar tidak hanya terkait pembiayaan modal kerja, tapi juga untuk pembiayaan investasi proyek. “Melalui berkembangnya pembiayaan perdagangan syariah ini, kami berharap pembiayaan impor bisa lebih murah dan pembiayaan ekspor menjadi lebih kompetitif dari negara lain,” kata Mulya.
Ia juga mendorong agar perbankan syariah dapat meningkatkan penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang memiliki nilai tambah tinggi dan menciptakan lapangan kerja. “Dalam hal ini termasuk pembiayaan perdagangan dan investasi,” ujar Mulya. Menurutnya, peningkatan pembiayaan perdagangan memiliki multiplier effect yang bisa meningkatkan aktivitas ekspor impor dan kegiatan produksi barang berorientasi ekspor.
“Bagi bank syariah, dengan semakin meningkatnya likuiditas valas misalnya dari potensi dana haji, maka penyaluran pada pembiayaan perdagangan merupakan strategi peningkatan pendapatan bank ditengah terbatasnya alternatif instrumen penempatan secara syariah,” cetus Mulya.
Untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan perdagangan syariah ini, tambah Mulya, bank perlu aktif melakukan promosi dan sosialisasi pada seluruh pelaku perdagangan internasional secara inklusif. “Jadi tidak hanya pada nasabah syariah saja, agar kemaslahatannya bisa dirasakan banyak pihak,” tegas Mulya.

