International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) menargetkan pembiayaan sejumlah 6,2 miliar dolar hingga akhir tahun ini.

Ia memaparkan sebagian besar portofolio pembiayaan ITFC disalurkan ke wilayah Asia Tengah, Timur Tengah dan Afrika Utara. “Sementara penyaluran ke Afrika nilainya kecil tapi memberi dampak sangat besar karena kita salurkan ke sekitar 15 negara di Sub Sahara Afrika untuk ke sektor energi dan agrikultur,” jelas Noordali.
Mengenai kerjasama dengan unit usaha syariah Bank Danamon, Noordali mengatakan langkah tersebut merupakan salah satu strategi untuk terlibat langsung dengan operator perbankan syariah di Indonesia. “Sebagai lembaga multilateral, kami juga ingin melakukan hal yang sama di setiap negara mayoritas muslim, sama seperti yang kami lakukan di Indonesia,” ujar Noordali. Di sisi lain, tambahnya, saat ini belum ada pembicaraan dengan bank lainnya di Indonesia untuk menjalin kerjasama serupa.
- KNEKS dan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala bekerja sama Mengembangkan Hilirisasi Bahan Baku Halal berbasis Minyak Nilam
- Bank Muamalat Catat Kenaikan Jumlah Transaksi Top Up Kartu Uang Elektronik Hingga 180,52%
- Asosiasi DPLK dan DPLK Syariah Muamalat Inisiasi Sinergi Ekosistem Syariah bagi Sektor Informal
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
Sementara, Deputy Chief Executive Officer ITFC, Hani Salem Sonbol, mengungkapkan bahwa sektor perdagangan menjadi salah satu sektor penting bagi Grup IDB. IDB terus berupaya memberikan dukungan terhadap perkembangan ekonomi negara anggota OKI. “Portofolio pembiayaan ITFC pun terus tumbuh dari 2,21 miliar menjadi 5,5 miliar dolar,” ungkap Hani.
Ia menambahkan dukungan terhadap perbankan syariah telah menjadi salah satu prioritas ITFC. “Kami melihat banyak negara mayoritas Muslim memakai mekanisme pembiayaan syariah mulai dari murabahah hingga sukuk dan menemukan bahwa hal tersebut merupakan sistem yang bisa bertahan dari krisis,” tukas Hani. Ia pun tak heran jika kian banyak negara Non Muslim tertarik dengan keuangan syariah. Bahkan kini, negara-negara seperti Inggris ingin menjadi pusat keuangan syariah. Ambisi itu, lanjutnya, diikuti pula oleh Jerman dan Prancis.

