Bencana banjir kerap kali terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini diakibatkan oleh perubahan iklim, intensitas curah hujan yang meningkat, ataupun dikarenakan oleh penyumbatan saluran air atau pendangkalan sungai yang terjadi karena masyarakat tidak menjaga kebersihan.

Modul ini akan digunakan oleh para guru Sekolah Dasar dalam memberikan pengenalan dini bagi murid-muridnya mengenai siklus air, pencegahan banjir dan tanggap banjir. Peluncuran ini diadakan sejalan dengan Hari Ciliwung yang akan diperingati 11 November 2014. Tujuan dari untuk memberikan edukasi mengenai terjadinya banjir dan bagaimana tindakan yang sebaiknya dilakukan untuk meminimalisasi risiko banjir.
“Bencana datang tak terduga. Untuk itu, kami melihat pentingnya edukasi yang berkelanjutan mengenai pencegahan serta tanggap bencana, yang dapat mengurangi resiko akibat bencana tersebut, khususnya banjir,” jelas Jon-Paul Jones – Presiden Direktur dan CEO AIG Indonesia di sela-sela acara peluncuran di Manggarai.
- CIMB Niaga Business Summit 2026 Usung Vision Made Possible Dukung Perusahaan Indonesia Tumbuh Berkelanjutan
- Prudential Syariah Luncurkan Asuransi Jiwa PRUCare 360 Syariah
- Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak Signifikan, Tembus Rp1,9 Triliun
- BSI Perkuat Ekosistem Wakaf Produktif, Dorong Potensi Rp180 Triliun Jadi Kekuatan Ekonomi Umat
“Menciptakan dunia yang aman dan nyaman bagi komunitas dimanapun kami berada, merupakan komitmen dari AIG. Kami berharap modul ini dapat membantu meningkatkan pengetahuan mengenai pencegahan dan tanggap banjir sejak dini. Serta menjangkau berbagai wilayah di Indonesia dengan dukungan dari mitra-mitra kami,” lanjut Jon-Paul Jones bersemangat.
Dr. Cindy Pribadi selaku pendiri Greenation Indonesia, turut menjelaskan program ekonomi berbagi yang satu ini, “Kemajuan sebuah kota tercermin dari tingkat ketahanannya terhadap bencana, baik dari segi kesiapan infrastrukturnya dan juga masyarakatnya. Ketika bencana sudah tidak dapat dicegah, kerugian yang besar dan korban manusia yang berjatuhan acapkali ditimbulkan oleh tidak tanggapnya warga di saat banjir yang datang. Edukasi warga sedini mungkin merupakan kunci bagi tanggap bencana agar pengetahuan dapat tumbuh menjadi sebuah kebiasaan.”

