Sikap kritis sangat dibutuhkan untuk senantiasa dipegang dai-dai, terutama pasca aksi 212.
Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Muhammad Siddiq menghimbau agar umat Muslim untuk bisa berpikir kritis. Menurut Siddiq, kekritisan itu bertujuan menangkis berbagai cobaan yang senantiasa menghadang dakwah Islam di Indonesia.
Siddiq menegaskan, sikap kritis itu sangat penting dikarenakan umat Islam kerap dininabobokan dengan fakta sebagai populasi Muslim terbesar di dunia. “Kondisi itu sering membuat umat Islam di Indonesia merasa puas, sedangkan Undang-Undang sangat banyak direkayasa dan membuat umat sulit menyampaikan aspirasi. Maka itu, umat harus berpikir kritis dalam berbagai aspek,” ujar Siddiq dalam diskusi Strategi dan Pespektif Dakwah Pasca 212: Bertolak dari dari fiqhud Muhammad Natsir”, di Kantor Dewan Masjid Indonesia (DMI), di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (16/1).
Siddiq menilai, demokrasi yang ada saat ini sudah bukan lagi demokrasi yang murni. Ini menurut dia, mengingat uang yang berkuasa menentukan arah angin demokrasi. Lewat kekuasaan uang, demokrasi dibuat menjurus kepada tirani sekelompok orang, sehingga orang-orang itu bisa berbuat seenaknya di Indonesia.
Siddiq pun merasa prihatin, umat Islam senantiasa diberi tuduhan tidak demokrasi, bahkan dituduh merusak NKRI. Sedangkan, NKRI merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar, dan umat Islam sudah sangat berbesar hati untuk menerima sebagai bagian penting dari kehidupan. “Umat Islam sering dituduh merusak Bhinneka Tunggal Ika. Padahal umat Islam yang sudah menerima Bhinneka Tunggal Ika,” tegas Siddiq.
Untuk itu, dia menegaskan, bahwa sikap kritis sangat dibutuhkan untuk senantiasa dipegang dai-dai di Indonesia dalam berdakwah, terlebih usai aksi 212 yang belum lama ini dilakukan jutaan umat Islam Indonesia bertumpah di silang Monas.
“Aksi 212 harus bisa dijadikan momentum tepat untuk meneguhkan prinsip dakwah, terutama sikap kritis di dalamnya,” pungkas Siddiq.

