Budayawan Taufiq Ismail memandang Partai Komunis Indonesia (PKI) perlu dikaji dari alur sejarahnya. Kita juga wajib mengagalkan rencana pemerintah meminta maaf kepada keluarga PKI.

Taufik mengatakan, alur sejarah PKI dapat dilihat sejak tahun 1927, tahun 1948 dan 1965. Saat itu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) luar biasa sekali. “Bahkan sejak tahun 1925 sudah terjadi, PKI dengan diwakili (Munawar) Muso sudah merencanakan berontak,” papar Taufik, dalam diskusi bertajuk ”Mendesak Penindakan Pelanggaran HAM terhadap Umat Islam,” di kantor MUI Pusat, Jakarta, pada Jumat (21/8).
Lebih lanjut Taufik menjelaskan, mereka melakukan pertemuan rahasia di Candi Prambanan untuk berontak tahun 1927. Ketua atau istilahnya Sekjen PKI adalah Tan Malaka, yang saat itu lari ke Bangkok (Thailand). Kemudian dikejar Belanda tidak tertangkap.
”Tapi dari satu sumber lain, saya baca, mereka minta persetujuan ke (Joseph) Stalin (pemimpin Komunis Uni Soviet). Dia bangga dan setuju, tapi dia tak tahu keadaan lokal. Tan Malaka menolak karena tahu keadaan, lalu PKI tetap memberontak,” ujarnya.
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
- Prudential Syariah Luncurkan PRUHeritage Syariah Essential Plan USD, Nilai Proteksi Meningkat hingga 150%
Saat Belanda memberi harga murah atas hasil bumi, lanjut dia, PKI berhasil menghasut petani. Lalu mereka memberontak, akibatnya ada 3000 petani ditangkap, 400 petani diasingkan ke Boven Digul, dan Belanda bisa menumpas para petani.
Muso, kata Taufik, gagal berontak. Lalu dia pergi ke Uni Soviet hingga tahun 1948. Setelah itu, Muso kembali ke Indonesia dan menemui sahabatnya yang sudah menjadi Presiden yaitu Soekarno.
Dalam beberapa keterangan sejarah, ketika muda Muso sempat kos di rumah HOS Tjokroaminoto bersama Soekarno dan pimpinan Darul Islam Tentara Islam Indonesia atau DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.
”Muso ketika ketemu Soekarno sombong, tidak hangat, cemburu. Saat ditanya wartawan, dia bilang datang ke sini untuk mengubah keadaan. Dia akan ambil jabatan Soekarno. Dia hasut tentara, lalu berontak di Madiun dan berdirilah Republik Soviet di Indonesia,” tegas Taufik.
Saat itu juga, kata Taufik, Muso dan pengikutnya, merazia pesantren-pesantren dan menyembelih santri-santri, kiai-kiai dan tokoh-tokoh desa dihampir seluruh Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Aksi biadad Muso itu, kata Taufik, karena adalah Muso 21 tahun di Uni Soviet melihat Stalin membantai penduduknya sendiri. Itu dibawa dia ke Indonesia. Jadi umat Islam dia dibantai dengan keji selayaknya Stalin,” paparnya.
Dalam catatan mantan aktifis Pelajar Islam Indonesia ini, waktu itu warga Muslim di Madiun di tipu habis-habisan oleh PKI di bawah kendali Muso. Mereka dihasut bakal ada Nabi dari Jawa bernama Muso. Warga mengira itu Nabi Musa yang dikenal di Islam. Dan ternyata mereka justru dibantai habis-habisan.
Mendengar hasutan Muso kepada petani berhasil. Belanda senang, lalu mereka kira akan berhasil menguasai Indonesia. Tapi nyatanya kehendak Allah SWT berkata lain. Karena tiga orang Indonesia yaitu H Agus Salim, Soekarno dan Soejadmoko mendatangi PBB minta bantuan.
Kemudian Soekarno pidato di PBB, menyebutkan George Washington. Ini sangat mengesankan bagi Amerika Serikat, lalu saat itu juga PBB mengakui kemerdekaan Indonesia. Pengakuan PBB terhadap kemerdekaan Indonesia terdengar oleh telinga Belanda.
Euforia kemerdekaan ini, membuat Indonesia lupa pada kebiadaan PKI. Bahkan tahun 1965, PKI bisa ikut Pemilu. ”Seeolah-olah PKI diampuni dan dimanfaatkan oleh Indonesia,” ujarnya.
Pada tahun 1965, usia jadi pemenang politik, PKI kembali merebut kekuasaan dengan kekerasan. Itu menjadi pokok ulasan dalam buku Karl Marx yang dia buat pada usia 30 tahun dan hingga kini belum direvisi serta diikuti oleh banyak orang termasuk PKI.
Selanjutnya, kata Taufik, PKI kembali membunuh jenderal-jenderal TNI AD pada peristiwa 30 September 1965. Menurut Taufik, kudeta sebenarnya terjadi pada 2 Oktober 1965. Tapi saat itu Muso sudah gagap. Dia lalu kabur menggunakan kapal selam, tapi TNI berhasil menangkap dan menembaknya.
Lalu pada tahun 1966, Indonesia baru menyatakan diri dan membubarkan PKI dari bumi nusantara ini. ”Yang perlu diingat, PKI boleh sudah dibubarkan, tapi ideologinya saya yakin masih bertahan hingga kini,” ujar Taufik.
Taufik menuturkan, pengaruh ideologi komunis begitu mengerikan, mereka mampu membunuh eksistensi kita sebagai manusia yang beradab. ”Itu yang kurang disosialisasikan. Jadi apa yang dilakukan pemerintah untuk minta maaf kepada keluarga PKI. Itu harus dan wajib kita gagalkan,” tukasnya.

