Kenaikan harga minyak dunia di atas US$ 100 per barel, diyakini tidak memberikan dampak langsung terhadap anggaran negara Arab Suadi. Namun, berbeda dengan Indonesia yang menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dengan alasan untuk meningkatkan anggaran negara.

Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini harga minyak mentah di bawah US$ 80 per barel, turun tajam dibandingkan harga pada bulan Juni lalu sebesar US$ 115 per barel. Dengan kondisi ini, Arab Saudi diperkirakan mengoreksi defisit anggaran pada tahun depan. Namun, Arab Saudi percaya cadangan fiskal dan luar negeri sangat besar.
Diperkirakan aset bank sentral melebihi US$ 700 miliar. Dengan aset tersebut, maka pembiayaan defisit akan mudah. Sehingga pemerintah tidak perlu melakukan penghematan secara besar-besaran, seperti pemotongan subsidi energi. “Kami menghitung harga minyak dunia rata-rata tahun ini masih di atas US$ 100 per barel. Untuk itu, cenderung mencatatkan surplus hingga akhir tahun 2014,” ujarnya.
Sementara harga minyak dunia merosot, Presiden Joko Widodo malah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi terhitung, Selasa (18/11) hari ini. Jokowi berpendapat bahwa keputusan ini diambil untuk menekan belanja subsidi energi yang meningkat akibat melemahnya rupiah. Selain itu, karena Indonesia lebih banyak mengimpor BBM dan membayarnya menggunakan mata uang dollar AS. Jokowi berharap, kebijakan ini tidak hanya dapat menekan biaya subsidi energi, tapi juga menguatkan kembali mata uang rupiah. “Kebijakan menaikkan BBM ini untuk meningkatkan anggaran negara,” tegasnya.

