bank syariah

Asset Management Malaysia Usulkan Perpanjangan Netralitas Pajak

[sc name="adsensepostbottom"]

bank syariahMalaysia yang berambisi menjadi pusat keuangan syariah global telah memberikan sejumlah aturan yang memfasilitasi lembaga keuangan syariah di negara tersebut, seperti memberikan tax neutrality sampai tahun 2016. Namun pelaku industri islamic asset management di negara jiran itu tengah mengusulkan agar ketentuan tersebut dapat diperpanjang hingga dua tahun lagi.

Chief Executive CIMB-Principal Islamic Asset Management, Ramlie Kamsari, mengatakan total dana kelolaan syariah di Malaysia baru mencapai sekitar 32 miliar ringgit atau sekitar 10 juta dolar AS, sehingga masih memiliki ruang untuk tumbuh. Regulator dan otoritas pun mencoba memfasilitasi pertumbuhan itu dengan beberapa skim, salah satunya tax neutrality sampai 2016 untuk perusahaan aset manajemen syariah yang mendaftar dan beroperasi di Kuala Lumpur. Selain itu, bagi bank syariah yang menerbitkan sukuk juga tak akan dikenakan pajak, sehingga bisa lebih kompetitif dengan obligasi konvensional.

Namun, menurut Ramli, para pelaku industri islamic asset management sedang melobi untuk mendapat perpanjangan ketentuan netralitas pajak sampai 2018. “Pemain islamic asset management, seperti CIMB-Principal Islamic Asset Management yang berdedikasi di investasi syariah berusia kurang dari lima tahun, sehingga kami masih perlu dukungan lebih dari otoritas,” kata Ramli kepada mysharing.

Selain itu, ada beberapa alasan lainnya. Ramli mengungkapkan pelaku industri aset manajemen konvensional punya kemampuan yang sudah cukup baik, karena telah lebih dulu berada di pasar. Dan, masih ada beberapa perusahaan islamic asset management yang masih berjuang karena hanya memiliki dana kelolaan yang sedikit.

“Jika dana kelolaannya sedikit, maka tidak menguntungkan dan akan menjadi sebuah tantangan dalam mengembangkan keahlian investasi. Jika tidak punya keahlian investasi maka tidak bisa memberi performa terbaik. Ini menjadi lingkaran setan. Walau kami bekerja dengan baik, tapi kami membutuhkan stabilitas dan dukungan yang lebih baik,” jelas Ramli.

Setelah memiliki mandat di Brunei Darussalam baru-baru ini, CIMB-Principal Islamic Asset Management pun membidik untuk menjangkau pasar global lainnya, dengan memasuki pasar Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab (terutama Abu Dhabi dan Dubai) dan Arab Saudi. “Selain itu, kami juga melihat ada investor potensial di Eropa karena ada pebisnis Timur Tengah yang mempunyai bisnis juga di Eropa, seperti di Jenewa, dan Zurich,” ujar Ramli.