Merespon kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di kawasan di Indonesia, Dompet Dhuafa menyiapkan strategi jangka pendek, menengah, hingga panjang.

Direktur Pengembangan Sosial Dompet Dhuafa Nana Mintarti, mengatakan langkah respon cepat timnya untuk mengatasi kekeringan adalah dengan dropping air berupa mobil keliling ke sejumlah wilayah di Indonesia, seperti yang dilakukan di Kecamatan Cibarusah dan sejumlah kota di Pantura. Namun, untuk wilayah yang menjadi penerima manfaat dari penyaluran air ini masih dalam tahap penyeleksian.
“Selain itu, kemungkinan wilayah lain adalah Serang dan Lebak di Banten. Kemudian beberapa wilayah program pertanian Dompet Dhuafa seperti di Blora, Tuban, dan Ponorogo juga menjadi sasaran,” kata Nana dalam siaran pers yang diterima mysharing, akhir pekan lalu. Baca: 2015, Dompet Dhuafa Bidik 2 Juta Penerima Manfaat
Nana menuturkan bencana kekeringan kali ini disebabkan faktor alam yakni imbas fenomena El Nino yang telah mencapai level moderat dan faktor manusia karena penggunaan lahan yang tidak ramah lingkungan. Bencana kekeringan ini jelas kian memperparah defisit air bersih. Padahal, saat ini saja di Pulau Jawa hanya memiliki tutupan lahan hutan kurang lebih 10 persen. “Karenanya penggunaan air bersih secara bijak setiap individu harus dikampanyekan dan disosialisasi. Setiap manusia kebutuhan air untuk pemenuhan pokoknya minimal 20 liter per orang per hari,” jelasnya.
Sejumlah strategi jangka menengah pun turut dirancang Dompet Dhuafa dalam penanganan bencana kekeringan. Strategi tersebut berupa pembuatan tandon atau bak penampungan air berbasis fasilitas publik seperti masjid di wilayah yang mengalami kekeringan. Pembuatan tandon air ini memudahkan saat penyaluran air dilakukan. Selain untuk kebutuhan memasak, tandon air juga bisa dimanfaatkan sebagai cadangan air. Tandon air ini dibuat permanen.
“Masjid sengaja dipilih karena semua orang bisa mengakses. Penyediaan tandon air tidak hanya diperuntukkan saat musim kemarau tetapi juga saat musim penghujan. Tandon air ini bisa dijadikan sebagai tempat penampung air hujan,” kata Nana. Baca Juga: Masjid Berpotensi Kembangkan Keuangan Syariah
Selain penyediaan fasilitas pendukung, advokasi terhadap masyarakat setempat menjadi rencana jangka panjang. Advokasi tersebut berupa desain rumah yang bisa menampung air. Tempat penampungan air ini berada di bawah tempat tinggal penghuni. Ada dua keuntungan dari desain rumah seperti ini yaitu bisa dijadikan tempat untuk distribusi air dan juga bisa difungsikan sebagai tempat penampungan air hujan.
Sejatinya dalam merespon dampak kekeringan seperti defisitnya suplai air bersih, Dompet Dhuafa tak hanya melakukannya saat kekeringan melanda. Dompet Dhuafa telah memiliki program Air untuk Kehidupan di berbagai wilayah di tanah air untuk memastikan ketersediaan air bersih baik sebelum maupun saat bencana kekeringan melanda. “Hingga saat ini program Air untuk Kehidupan berjalan di 34 titik seluruh Indonesia. Dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 40.885 jiwa,” jelas Nana.
34 titik Air untuk Kehidupan yang bergulir yakni di Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, Dompu, Sumbawa, Flores Timur, Bojonegoro (2 titik), Ponorogo (2 titik) Jember (2 titik), Probolinggo, Malang, Gunung Kidul, Lebak, Lampung Selatan, Pasawaran, Tasikmalaya, Jakarta Utara, Padang Pariaman, Solok, Banyuasin (2 titik), Muara Enim, Tanjung Balai, Timur Tengah Selatan, Rote Ndau, Kutai Karta Negara, Gorontalo Utara, Banjarnegara, Blora, Makassar, dan Serang.

