Mengelola keuangan antara keperluan pribadi dan bisnis terkadang menjadi kendala tersendiri bagi seorang pengusaha. Bagaimana sebaiknya memisahkan antara dana untuk kepentingan bisnis dan pribadi?

“Triknya agar dana tak bercampur, pisahkan rekeningnya. Boleh kok dalam satu bank punya banyak rekening. Karena kalau untuk bisnis kita kan tanggung jawab sama konsumen dan karyawan jadi tanggung jawabnya beda, karena itu pisahkan antara dana bisnis dan pribadi,” katanya dalam Business Matching dan Community Gathering Cara Cerdas Berbisnis dan Mengelola Keuangan yang diadakan oleh Otoritas Jasa Keuangan dalam rangka Pre Event Pasar Rakyat Syariah 2015, Kamis (4/6).
Ghozali menuturkan dalam mengelola keuangan untuk pengembangan keperluan pribadi dan bisnis pun berbeda. “Untuk keuangan pribadi fokuskan pada pengembangan aset, sementara untuk bisnis fokus pada pengembangan omset. Di bisnis omset lebih penting dari aset. Di dana pribadi jangan tergoda untuk memperbesar omset tapi perbesar aset, karena ke depan kalau tidak bisa bekerja lagi kita akan tetap punya penghasilan,” jelas Ghozali.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Sebagai bantalan keuangan, disarankan pula agar mencadangkan tiga kali pengeluaran bulanan pada dana pribadi. Menurut Ghozali, seorang pengusaha dituntut untuk memahami siklus bisnis. Ia menuturkan bisnis modal kecil yang berputar cepat lebih baik daripada modal besar berputarnya lambat. “Dengan mempercepat uang berputar jadi semakin bagus. Untuk startup di masa awal putar keuntungan untuk bisnis saja dulu,” ujar Ghozali.
Ia menambahkan dalam berbisnis pun jika sudah mendapat keuntungan sebaiknya menyisihkan dana untuk investasi di sektor keuangan. Di sisi lain, produk keuangan pun tak hanya sebatas pada produk untuk investasi namun juga pembiayaan untuk bisnis. “Manfaatkan produk yang ada di perbankan, pasar modal dan industri keuangan lainnya. Di bank syariah ada tabungan, giro, hingga kartu kredit syariah yang dapat digunakan untuk bisnis,” tukas Ghozali.

