Bagaimana Pisahkan Dana Pribadi dan Bisnis?

[sc name="adsensepostbottom"]

Mengelola keuangan antara keperluan pribadi dan bisnis terkadang menjadi kendala tersendiri bagi seorang pengusaha. Bagaimana sebaiknya memisahkan antara dana untuk kepentingan bisnis dan pribadi?

Memisahkan-Kekayaan-Pribadi-dan-Perusahaan-2Perencana Keuangan Independen Zelts Consulting, Ahmad Ghozali, mengatakan bagi seorang pengusaha penting untuk memisahkan antara kantong bisnis dan pribadi karena keduanya punya karakter dan sifat berbeda, sehingga cara mengaturnya pun berbeda. Ia menuturkan dalam berbisnis biasanya seorang pengusaha berpikir rasional dan penuh perhitungan, sementara untuk keperluan pribadi cenderung bersikap emosional.

“Triknya agar dana tak bercampur, pisahkan rekeningnya. Boleh kok dalam satu bank punya banyak rekening. Karena kalau untuk bisnis kita kan tanggung jawab sama konsumen dan karyawan jadi tanggung jawabnya beda, karena itu pisahkan antara dana bisnis dan pribadi,” katanya dalam Business Matching dan Community Gathering Cara Cerdas Berbisnis dan Mengelola Keuangan yang diadakan oleh Otoritas Jasa Keuangan dalam rangka Pre Event Pasar Rakyat Syariah 2015, Kamis (4/6).

Ghozali menuturkan dalam mengelola keuangan untuk pengembangan keperluan pribadi dan bisnis pun berbeda. “Untuk keuangan pribadi fokuskan pada pengembangan aset, sementara untuk bisnis fokus pada pengembangan omset. Di bisnis omset lebih penting dari aset. Di dana pribadi jangan tergoda untuk memperbesar omset tapi perbesar aset, karena ke depan kalau tidak bisa bekerja lagi kita akan tetap punya penghasilan,” jelas Ghozali.

Sebagai bantalan keuangan, disarankan pula agar mencadangkan tiga kali pengeluaran bulanan pada dana pribadi. Menurut Ghozali, seorang pengusaha dituntut untuk memahami siklus bisnis. Ia menuturkan bisnis modal kecil yang berputar cepat lebih baik daripada modal besar berputarnya lambat. “Dengan mempercepat uang berputar jadi semakin bagus. Untuk startup di masa awal putar keuntungan untuk bisnis saja dulu,” ujar Ghozali.

Ia menambahkan dalam berbisnis pun jika sudah mendapat keuntungan sebaiknya menyisihkan dana untuk investasi di sektor keuangan. Di sisi lain, produk keuangan pun tak hanya sebatas pada produk untuk investasi namun juga pembiayaan untuk bisnis. “Manfaatkan produk yang ada di perbankan, pasar modal dan industri keuangan lainnya. Di bank syariah ada tabungan, giro, hingga kartu kredit syariah yang dapat digunakan untuk bisnis,” tukas Ghozali.