Jelang Pilkada putaran 2, warga Jakarta dari gang ke gang menenteng sembako.
Dua hari ini, Jakarta mirip dengan malam idul fitri, sembako-sembako berseliweran di jalan-jalan dengan diangkut mobil. Sembako-sembako itu menyasar lingkungan RT/RW seanterok Jakarta.
Pembagian sembako pun beragam. Yaitu, ada penjualan sembako murah itu menjelang pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran 2 di sejumlah daerah. Yaitu diantaranya di Kelurahan Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Sabtu (15/4)-Minggu (16/4).
Di wilayah ini sembako dijual seharga 15 ribu dengan isi 1 kilo gula putih, 1 liter minyak goreng, dan 5 bungkus mie istan. Namun warga disyaratkan harus membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).
Informasi yang didapat, acara penjualan sembako murah itu disebut-sebut sebagai “banjir sembako” diprakarsai tim sukses pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saifuk Hidayat (Badja). “Tim Ahok lagi aktif bergerak,” kata Ning, salah satu warga Cijantung.
Namun dia mengaku meskipun hidupnya pas-pas, tidak akan membeli sembako itu. “Ah..mending beli di warung aja. Kalau gratis juga nggak bakal saya ambil kok,” ujarnya.
Contoh lainnya, adalah di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Jumat (14/4) juga terjadi penjualan sembako murah masih dilakukan tim sukses pasangan Badja.
Penjualan sembako murah ini berlangsung di RT 14 dan 15 RW 014 Kelurahan Klender. “Saya beserta PPL (Panitia Pengawas Lapangan) dan Panwas Kecamatan memantau kegiatan dari jauh,” kata Lurah Klender ARahman Hakim dilansir dari Tempo.
Menurut Rahman, penjualan sembako dilakukan sesuai shalat Jumat. Masyarakat antisias mengantre untuk mendapatkan sembako murah itu. Rahmat mengatakan, Panwas Kecamatan dan PPL menganggap kegiatan ini bukan pelanggaran pilkada karena harga sembako yang dijual tidak berbeda jauh dari harga normal, yakni sekitar Rp 20 ribu dengan isi 5 bungkus mie instan, 1 liter minyak goreng, dan 1 liter beras.
Ada juga sembako dibagikan cuma-cuma tanpa harus ditebus dengan uang rupiah yang ditentukan. Cukup dengan membawa KTP dan KK, maka sembako bisa dimiliki warga. Seperti di Kalideras, Jakarta Barat, ditemukan enam truk mengangkut sembako. Pembagi bantuan mengaku sebagai simpatisan pasangan calon nomor urut dua. Namun sayangnya kendaraan dan sembako itu keburu diamankan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Jakarta Barat, dan diamankan di Polsek Kalideres.
Namun di wilayah lain Jakarta, banyak juga pembagian sembako cuma-cuma itu lolos bisa sampai ke tangan warga. Masyarakat Jakarta pun dari gang ke gang menenteng sembako tanpa ada yang mampu mencegah. Syarat apapun untuk mendapatkan sembako itu mereka lakukan, intinya adalah murah.
Banjir sembako di Jakarta menjelang Pilkada pun tak bisa dibendung oleh siapapun. Bermuatan politik atau tidak, kembali ke hati iklas menjual atau memberi sembako tanpa syarat mutlak atau memaksa kehendak harus memilih seseorang.

