Pada 6 Maret 2014, Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D.W. Martowardojo dan Gubernur Bank of Korea, Choongsoo Kim, menandatangani perjanjian kerjasama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) di Jakarta. Perjanjian ini memungkinkan swap mata uang lokal antara kedua bank sentral senilai KRW10,7 triliun atau Rp115 triliun (ekuivalen USD10 miliar).

Perjanjian ini berlaku efektif selama tiga tahun dan dapat diperpanjang atas kesepakatan kedua belah pihak. BCSA bertujuan untuk mempromosikan perdagangan bilateral dan memperkuat kerjasama keuangan yang bermanfaat bagi pengembangan ekonomi kedua negara.
Secara khusus, perjanjian ini juga akan menjamin penyelesaian transaksi perdagangan dalam mata uang lokal antara kedua negara sekalipun dalam kondisi krisis guna mendukung stabilitas keuangan regional.
“Perjanjian ini merupakan bentuk komitmen antar kedua bank sentral untuk mendukung stabilitas makroekonomi dan keuangan regional dalam menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi,” demikian disampaikan Agus D.W. Martowardojo dalam siaran pers terbaru Bank Indonesia yang diterima majalah Sharing.
Sementara itu, masih berdasarkan data siaran pers BI, pada Februari 2014 tingkat inflasi tercatat berada dalam tren menurun. Inflasi Februari 2014 tercatat cukup rendah yakni mencapai 0,26% (mtm) atau 7,75% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi Januari 2014 sebesar 1,07% (mtm) atau 8,22% (yoy).
Perkembangan ini dipengaruhi berbagai kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam meminimalkan dampak lanjutan bencana alam sehingga inflasi volatile food bulan Februari 2014 tercatat cukup rendah yakni 0,32% (mtm) atau 9,85% (yoy), turun tajam dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,89% atau 11,91%. Inflasi yang menurun juga dipengaruhi terkendalinya nilai tukar rupiah sehingga dapat meminimalkan dampak kenaikan harga komoditas global terhadap inflasi inti yang pada Februari 2014 tercatat 0,37% (mtm) atau 4,57% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi inti pada Januari 2014.
Selain itu, inflasi kelompok administered prices juga rendah yakni 0,01% (mtm) atau 17,37% (yoy), terutama dipengaruhi koreksi harga Bahan Bakar Rumah Tangga (LPG 12 kg) yang baru tercatat pada bulan Februari 2014. Bank Indonesia menilai perkembangan inflasi sampai Februari 2014 masih berada dalam lintasan sasaran inflasi, meskipun akan terus mencermati risiko yang dapat mengganggu pencapaian target yakni 4,5+1% pada 2014 dan 4,0+1% pada 2015.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Februari 2014 mencapai US$102,74 miliar, meningkat US$2,09 miliar dari posisi akhir Januari 2014 sebesar US$100,65 miliar. Pada level tersebut, cadangan devisa dapat membiayai 5,9 bulan impor atau 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai akumulasi cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

