Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan suku bunga BI tetap sebesar 7,5%. Apa dasarnya kebijakan tersebut? Dan apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia – Tirta Segara, Bank Indonesia memandang bahwa ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dengan terjaganya stabilitas makroekonomi, khususnya inflasi akhir tahun 2015 yang akan berada di bawah 3% dan defisit transaksi berjalan yang akan berada pada kisaran 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Bank Indonesia akan mencermati perkembangan pasar keuangan global pasca kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (Fed Fund Rate) dan kondisi ekonomi domestik dalam jangka pendek ke depan,” jelas Tirta Segara.
- Transaksi Nirsentuh dan Debit Online Kartu Shar-E Debit Bank Muamalat Terus Meningkat
- Bank Mega Syariah Perkuat Segmen Lifestyle via METRO Modest Fashion Week
- CIMB Niaga Umumkan Pemenang Beasiswa Jurnalis dan 4 Karya Terbaik Sustainability Journalism Fellowship 2026
- Bank Muamalat dan BMM Hadirkan CWLD Seri 001 untuk Program Gerobak Surya UMKM
Terkait dengan kebijakan di atas, lanjut Tirta Segara, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi, penguatan stimulus pertumbuhan, dan reformasi struktural, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan yang tetap terjaga, demikian Tirta Segara – Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI.

