Bank Muamalat menargetkan proses kerja sama pembiayaan dengan International Finance Corporation bisa selesai dalam 1-2 bulan mendatang. Pembiayaan tersebut akan dikhususkan untuk mendorong pembiayaan usaha kecil dan menengah (UKM).
Direktur Keuangan dan Operasional Bank Muamalat, Hendiarto, mengatakan saat ini proses kerjasama pembiayaan dengan International Finance Corporation sudah disetujui dan masih dalam proses review dokumen. “Insya Allah selesai dalam 1-2 bulan ke depan,” tegas Hendiarto.
Setelah selesai semua proses tersebut, Hendiarto mengungkapkan pembiayaan tersebut akan terbagi dalam dua tahap penyaluran, dimana masing-masing sebesar 30 juta dolar AS. Tahap pertama ditargetkan pada semester dua 2014 dan tahap kedua di awal 2015.

Untuk menjangkau nasabah mikro yang bergerak di sektor informal, Hendiarto mengatakan Bank Muamalat telah menyiapkan berbagai produk seperti tabungan dan mengembangkan infrastruktur dengan investasi touch point, yang kini telah berkembang dari 22 unit pada 2009 menjadi di atas 1000 unit.
Hingga April 2014 Bank Muamalat mencatat aset sebesar Rp 57 triliun dan dana pihak ketiga Rp 42,2 triliun. Kendati rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (financing to deposit ratio/FDR) di atas 100 persen, Hendiarto menuturkan pihaknya masih mempunyai likuiditas yang kuat. Selain masih memiliki dana dari secondary mortgage facility (pembiayaan sekunder perumahan) dan penerbitan sukuk sebelumnya, Bank Muamalat juga mencatat transaksi harian di Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah antara Rp 1,6 triliun sampai Rp 2 triliun.
Terkait dengan pembiayaan perumahan, Hendiarto mengatakan kondisinya kini masih dalam keadaan tertekan karena aturan uang muka dari Bank Indonesia beberapa waktu lalu. Segmen pasarnya pun berubah. “Segmen pasarnya menurun dari yang tadinya menengah, pengembang perumahan sekarang masuk ke low grade supaya lebih terjangkau, jadi kami juga masuk ke sana,” jelas Hendiarto. Rata-rata pembiayaan perumahan yang dibiayai Bank Muamalat adalah Rp 300 juta. Total pembiayaan perumahan mencapai Rp 8 triliun.

